b:include data='blog' name='all-head-content'/>
bismillah

Welcome

31. Katakanlah ( Muhammad ), " Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. " Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang,
32. Katakanlah ( Muhammad ), " Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-org kafir. " ( QS. Ali Imron : 31-32 )
Fruity Cherry Heart

Senin, 02 Agustus 2010

IA TELAH MEMILIH MENJADI BIDADARI DI SYURGA

Diposting oleh AKHWATimoet di 20.13 0 komentar
"Semalaman ia nyaris tidak tertidur.Sampai tengah malam dia masih membaca AL-QUR'AN.Tatkala saya terjaga,dia sedang asyik sholat malam.Dia asyik baca ayat-ayat AN-NAABA sambil menangis" ujar sang ibu.
Usai subuh ,AYAT AL-AKHRAS (16) remaja shalihah itu kembali membaca AL-QUR'AN. Ayat-ayat jihad panjang dibacanya berulang-ulang dengan nada bergetar.Sesekali ia terhenti,menahan isak tangis..Menjelang pukul 06.00 waktu Palestina, dia menulis sesuatu di meja belajar. Sejurus kemudian Ayat sudah berseragam dan bergegas menuju dapur untuk menemui ibunya.
Kepada Ny.AL-AKHRAS, dia pamit hendak pergi ke sekolah."Ada tugas tambahan. Hari ini boleh menjadi saat terpenting dalam hidup ini.Saya mohon do'a restu ibu,"ucapnya dengan mata berbinar.
Ny AL-AKHRAS tercekat. Dia sedikit bingung, heran , dan kaget melihat tingkah putrinya."Semoga ALLAHselalu melindungi dan merahmatimu Anakku. Tapi , bukankah Jum'at adalah hari libur?"
"Do'a Ibunda yang nanda harap,"jawabnya. Ayat tak lagi berkata-kata.Dia hanya tersenyum dikulum,cium tangan, kemudian memeluk erat sang ibu yang masih kebingungan.Dan dengan tetap tersenyum, dia menarik tangan adiknya,Samaah(10) .Merekapun sama-sama bergegas ke sekolah.
Beberapa jam kemudian, pukul 10 waktu setempat,Radio Israel memberitakan ledakan bom di supermarket Nataynya, dekat Yerussalem. Peristiwa ini ini menyebabkan tiga orang tewas dan lebih dari 40 orang luka-luka.
Jantung Ny AL-AKHRAS berdegup kencang menyimak kabar itu."Jangan-jangan dia.........."bisiknya saat itu. Firasatnya menguat manakala dia mendapatkan Samaah pulang sendirian sambil terisak-isak. Dia mengaku tak tahu persis ke mana sang kakak pergi.AYAT kata dia, hanya berpesan,"Jangan cemas dan takut ALLAH bersama kita orang-orang yang beriman.Sampaikan salam buat semua , dan berdo'alah .Muda-mudahan ALLAH memberikan pengampunan dan kemenangan!"
Di kamp pengungsian , Ny Al-AKHRAS cemas dengan nasib anaknya.Batinnya bertanya-tanya "Kemana dia pergi? Apakah dia sudah mewujudkan impiannya untuk menjadi syahidah?" Pertanyaan lain terus bermunculan dibenaknya.Bagaimana dengan impiannya yang lain? Soal pinangan , rencana pernikahan, dan pakaian pengantin yang sudah di jahitnya sendiri?Bukankah dia juga bercita-cita untuk melahirkan anak-anak, kemudian membina mereka menjadi mujahid-mujahid tangguh?"
Sementara pikiran liarnya bertanya-tanya , kalbunya mendapat isyarat bahwa calon mempelai itu telah gugur dalam aksi bom syahid."Inna lilllahi wainna ilaihi raji'un.Semoga ALLAH mencatatnya sebagai syahidah.Mudah-mudahan dia juga bisa menjadi pengantin Palestina yang bisa melahirkan kehornatan dan kemerdekaan bagi umat dan bangsanya"' demikian ucap sang ibu ketika mendapat kepastiaan beritanya.
Jum'at siang itu Ayat Al-Akhras pergi mengikuti jejak Issa Farah dan Saa'id , dua kerabatnya , yang gugur diterjang helikopter Israel.
Lahir 20 February 1985 di kamp DHEISHES.Di akhir hayatnya dia tercata sebagai siswa kelas tiga sekolah menengah atas.Ayat menurut ABC News,termasuk anak cerdas dan rajin belajar.Sampai saat-saat menjelang syahidnya , dia masih rajin menasehati teman-teman untuk terus belajar ."Penguasaan ilmu teknologi amat penting dan diperlukan untuk mendukung perjuangan kita, apapun bentuknya."
HAYFAA, teman baiknya, berujar ,"Dia selalu menasehati kami bahwa belajar harus tetap berjalan, meski rintangan dan bahaya mengancam disekeliling kita."
Tentang jihat Ayat selalu berkata," Jihad itu kewajiban setiap Muslim .Ternasuk wanita.Mengapa kita harus membiarkan nyawa kita terenggut sia-siaoleh kebiadapan zionis Israel." KEMATIAN SEORANG MUJAHID , KATA DIA , AKAN MEMBANGKITKAN KEBERANIAN MUJAHID-MUJAHID YANG LAIN, BUKAN SEBALIKNYA.
Meski tahu syahidah adalah cita-cita tertinggi anaknya, Ny.AL-ALKHRAS tetap saja merasa kehilangan .Dengan mata berlinang, dia mengulangi kata-kata sang anak ketika berdiskusi soal kewajiban jihad bagi setiap warga muslim Palestina." APA NIKMATNYA HIDUP DIDUNIA KETIKA KEMATIAN SELALU MENGINTAI KITA.MANA YANG LEBIH INDAH, MATI DALAM KETIDAKBERDAYAANDAN KEHINAAN ATAU GUGUR DI MEDAN JIHAD."
Samaah , adik sekaligus teman terdekatnya, merasakan hal yang sama.Sambil terus menangis , dia berkisah tentang saat-saat terakhir bersama kakaknya."Saya melihat cahaya dimukanya dan sebuah rona kebahagiaan tak pernah dilihat sebelumnya." Sambil memberi sepotong coklat, manis, lanjutnya, Ayat berkata lirih,"Shalat dan do'akan agar kakak sukses melaksanakan tugas suci ini."
"Tugas apa?" Samaah bertanya,"Hari ini kamu akan mendengar satu berita baik .Mungkin inilah hari terbaik dalam hidup saya.Inilah hari yang selama yang lama saya nantikan. Tolong sampaikan salam hormat saya kepada AKH SHAADI," tutur Ayat sambil memberikan secarik kertas.
Shaadi Abu Laan(20) , calon suami Ayat, termangu beberapa saat ketika kabar itu sampai padanya.Dia nyaris tak percaya Ayat pergi begitu cepat mendahuluinya.Padahal Juli ini , jelas Shaadi , "Kami sudah berencana untuk resmi berumah tangga.Begitu Ayat lulus ujian, kami akan menempati rumah sederhana yang belum didekor."Mereka , sudah satu setengah tahunber- khitbah (saling meminang). Keduanya bahkan telah menyiapkan nama ADIYY untuk bayi pertamanya.
"ALLAH ternyata punya rencana lain,"ucap SHAADI."Semoga kami bisa bertemu di syurga kelak, dia mencintai agamanya lebih dari apapun."
READ MORE - IA TELAH MEMILIH MENJADI BIDADARI DI SYURGA

SIAPA SICH ZULKARNAIN?

Diposting oleh AKHWATimoet di 19.15 0 komentar
Dikutip dari beberapa Situs

Sebenarnya pendapat popular bahawa Zulkarnain adalah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great) telah dinafikan oleh ramai sarjana Islam kerana setelah dikaji latarbelakang Iskandar Zulkarnain, ternyata bahawa beliau bukanlah seorang yang berperibadi mulia sebagaimana Zulkarnain yang diberitakan di dalam Al-Qur'an. Atas sebab itu sarjana yang kemudian telah mengkaji lagi dan mencari siapakah sebenarnya Zulkarnain itu.

Wahab bin Munabbih berpendapat bahawa Zulkarnain adalah seorang raja Yaman bernama As-Sha'ab Zulkarnain bin Al-Harith Zu Murathid bin Amru Al-Hammal Zu Manah bin Aad Zu Syidad bin Emir bin Al-Milthat bin Saksak bin Wail bin Himyar bin Saba' bin Yusyiab bin Yi'rab bin Qahtan bin Hud a.s. bin Emir bin Syalikh bin Arfafksyad bin Sam bin Nuh a.s. Menarik juga kisah As-Sha'ab Zulkarnain ini kerana baginda ini dikatakan hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan satu lagi perkara menarik ialah bahawa Nabi Khidir a.s. adalah menteri kanan kepada As-Sha'ab dan Khidir a.s. telah mengikuti baginda bersama-sama dalam siri pengembaraan baginda untuk menakluki negeri-negeri lain. Malah Khidir a.s. dikatakan telah menghilangkan diri selepas As-Sha'ab Zulkarnain mangkat.

Seorang lagi raja yang dikaitkan dengan Zulkarnain ialah Kaurasyh Al-Ikhmini. Pendapat ini dikemukakan oleh Abul Kalam Azad, bekas Menteri Pendidikan India. Beliau telah menyelidik sejarah Parsi kuno dan menemukan seorang raja yang terbilang sejarahnya. Kaurasyh dikenali oleh orang Greek sebagai Syrus, dan orang-orang Yahudi menggelarnya sebagai Khauras. Selain dari merupakan raja yang agung, Khaurasyh dikatakan bersifat adil, hubungan dengan rakyat jelata adalah baik, dan menunjukkan sifat-sifat kemanusiaan yang mulia.

Jika mahu dicatat satu persatu berkaitan tiga raja yang dikaitkan dengan Zulkarnain dalam Al-Qur'an itu akan jadi amat panjanglah artikel ini. Memadailah untuk saya catat di sini pendapat Muhammad Khair Ramadhan Yusuf yang telah mengkaji dengan terperinci mengenai raja-raja berkaitan. Beliau berpendapat bahawa adalah lebih baik untuk tidak mengaitkan salah satu dari tiga raja ini sebagai Zulkarnain yang disebut di dalam Al-Qur'an. Adalah lebih baik bagi kita menganggap bahawa Zulkarnain yang di sebut di dalam Al-Qur'an itu sebagai seorang raja agung yang beriman, yang berperibadi mulia. Saya sendiri pun bersetuju dengan beliau, kerana pendapat-pendapat ulama berkaitan perkara tersebut adalah sekadar pendapat dan belum lagi mencapai tahap pembuktian yang benar-benar kukuh. Mungkin pada satu hari nanti ulama Islam akan menemui bukti siapakah Zulkarnain yang dimaksudkan di dalam Al-Qur'an. InsyaAllah.

YAKJUJ DAN MAKJUJ DARI BERBAGAI SUMBER

Dari susut perkataan Yakjuj dan Makjuj, Imam Al-Alusi, Ibnu Manzur dan Al-Hafiz Ibnu Hajar berpendapat bahawa perkataan Yakjuj dan Makjuj berasal dari bahasa asing (bukan bahasa Arab). Sesetengah ulama lain mengatakan ia berasal dari bahasa Arab. Abul Kalam Azad pula menyatakan bahawa perkataan Yakjuj dan Makjuj berasal daripada bahasa Ibrani, dan pada asalnya ia adalah bahasa asing. Masyarakat Yunan menyebutnya sebagai Gog dan Magog.

Berbagai pendapat telah dikemukakan mengenai asal-usul kaum Yakjuj dan Makjuj. Menurut Imam Al-Alusi, Wahab bin Munabbih, dan ramai ulama termasuk pada masa kini, Yakjuj dan Makjuj berasal dari kalangan anak-anak Yafith bin Nuh a.s. Al-Kisai menyatakan dalam kitab Al-Ara'is bahawa Yafith ada lima anak iaitu Jumar, Banras, Asyar, Askuwail dan Mayasheikh, dan Yakjuj dan Makjuj berasal dari keturunan Asyar. Hadis dari Ibnu Abi Hatim dan Hakim melalui Abu Hurairah menyatakan bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah dari keturunan Yafith bin Nuh a.s. Sesetengah ulama berpendapat bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah dari keturunan Yafith iaitu bapa kepada bangsa Turki, dan mereka menamakannya sebagai bangsa Turki kerana Yakjuj dan Makjuj itu "terpisah atau tinggal" pada satu arah di belakang tembok. Ada juga yang berpendapat bahawa Yakjuj berasal dari Turki sementara Makjuj pula berasal dari Al-Gel dan Ad-Dailam.

Dari segi sifat Yakjuj dan Makjuj pula, banyak pendapat yang berbeza-beza telah dikemukakan oleh para ulama. Sebahagiannya dianggap terlalu aneh, pelik dan menyimpang dari realiti dan telah dianggap sebagai dongeng Isra'iliyat. Para pengkaji percaya bahawa Yakjuj dan Makjuj digambarkan oleh sebahagian ulama sedemikian rupa semata-mata untuk menarik minat pembaca. Sepatutnya Yakjuj dan Makjuj tidak digambarkan sewenangnya hingga boleh mendatangkan kekeliruan kepada umat Islam. Ibnu Jarir ada meriwayatkan daripada Wahab bin Munabbih secara terperinci mengenai kisah Zulkarnain dan pembinaan tembok, tetapi tidak menyentuh mengenai sifat-sifat Yakjuj dan Makjuj. Para pengkaji berpendapat bahawa hadis-hadis ganjil berkaitan sifat Yakjuj dan Makjuj ini tidak sah dari segi sanadnya. Secara umumnya kini para pengkaji berpegang pada prinsip bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah manusia, anak-anak Adam, dari keturunan Yafith bin Nuh a.s. Sheikh Abdul Karim Khatib menyatakan bahawa tidaklah diketahui sama ada Yakjuj dan Makjuj punya perbezaan ketara dari sudut tubuh, mungkin ada kelainan dari segi warna kulit, akhlak dan adat, tapi mungkin dari sudut kekuatan dan membentuk kerajaan.

Menurut hadis diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Mardhawiyyah melalui Ibnu Amru bin Aus daripada datuknya, bahawa Yakjuj dan Makjuj ini berjima' secara bebas dengan perempuan dari kalangan mereka (maksudnya mereka menjima' sesuka hati) dan ikatan perkahwinan mereka dibentuk mengikut kehendak mereka sendiri. Ibnu Hajar berkata bahawa di kalangan Yakjuj Makjuj ada yang mahir dalam sektor perkilangan, pemerintahan dan sebagainya, dan anggota kerajaan serta rakyat amat patuh kepada ketua. Ibnu Hajar juga berpendapat bahawa mereka mempunyai pokok-pokok dan tanaman-tanaman dan juga peralatan-peralatan.

Berapa ramaikah bilangan Yakjuj dan Makjuj? Ada yang berpendapat bahawa jika dirujuk pada Surah Al-Anbiya' Ayat 96, ternyata bahawa Yakjuj dan Makjuj turun dalam keadaan laju dari tempat yang tinggi dan keadaan mereka (kelajuannya) adalah seperti serigala berjalan. Dan jelas bahawa ayat itu menunjukkan jumlah mereka adalah ramai. Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Mardhawiyyah melalui Abdullah bin Amru, juga diriwayatkan oleh Abdu bin Hamid melalui sanad sahih daripada Abdullah bin Salam: "Sesungguhnya (Yakjuj dan Makjuj) daripada zuriat Adam dan di belakang mereka ada tiga umat, tidak mati di kalangan mereka melainkan meninggalkan lebih daripada seribu zuriat. Dari Tabrani dan Ibnu Mardhawiyyah dan Al-Baihaqi dan Abdu bin Hamid daripada Ibnu Umar: "Dinamakan (Yakjuj dan Makjuj) kepada tiga umat: Tawil, Taris dan Mansik". Imam Al-Alusi berpendapat bahawa Yakjuj dan Makjuj mempunyai umur yang paling panjang. Ibnu Kathir telah berkata bahawa bilangan mereka tidak dapat ditetapkan, tetapi pasti jumlah mereka sangat ramai.

Apakah jenis kerosakan yang dilakukan oleh Yakjuj dan Makjuj? Sesetengah ulama berpendapat bahawa mereka ini melakukan kerosakan dan keganasan dengan menerkam ke atas mangsanya seperti binatang yang merangkak, liar dan ganas. Mereka juga memakan ular, kala dan semua yang bernyawa. Al-Kalbi berpendapat: "Mereka ini keluar ke bumi pada musim bunga dan memakan semua yang dijumpainya sama ada yang hijau atau yang kering. Mereka juga membawanya masuk ke dalam bumi. Dan sesiapa yang berjumpa dengan mereka nescaya akan disiksa dan dibunuh." Sesetengah ulama lain berpendapat bahawa mereka memakan manusia dan merosakkan apa yang ada di bumi setelah mereka keluar.

Sebahagian ulama' berpendapat bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah orang Mongol. Syed Qutub seorang pengkaji Islam yang masyhur berpendapat bahawa ada kemungkinan Yakjuj dan Makjuj adalah orang Mongol, kerana itulah orang Mongol dan Tartar mengganas serta membuat kebinasaan di Timur. Doktor Abdul Halim berpendapat bahawa Tartar adalah nama bagi bangsa yang berlainan petunjuk dengan sebab berlainan masa, tapi Thomson berpendapat bahawa Tartar merupakan nama yang digelarkan ke atas bangsa Mongol atau satu puak daripada mereka, dan bukan ke atas bangsa Turki. Thomson juga berkata bahawa orang-orang Turki telah keluar dari Mongolia sebagai jalan penyelesaian, dan tempat mereka diganti oleh orang-orang Mongol. Setengah dari kaum Tartar telah berpakat dengan puak Turki ketika keluar dari Mongolia dan berpindah bersama dari Asia Tengah menuju ke arah barat. Ibnu Al-Athir menggelarkan "At-Taiman" terhadap nenek-moyang Genghis Khan, dan mereka ini dianggap nenek-moyang bangsa Tartar. Ternyata bahawa bangsa yang asalnya berketurunan Mongol dan bertutur bahasa Mongolia adalah Tartar. Nama Mongol dan Mongolia mula digunakan secara rasmi oleh Genghis Khan. Imam Al-Qasimi juga berpendapat bahawa mereka adalah orang Mongol dan Tartar.

Persoalan mengenai siapakah Yakjuj dan Makjuj juga telah mendapat perhatian dan telahpun dikaji dengan terperinci oleh sarjana-sarjana Islam. Secara ringkasnya, ada yang berpendapat bahawa kaum ini adalah bangsa Mongol dan Tartar yang memang terkenal ganas dan telah menyerang dan menakluki sebahagian besar muka bumi, dan kaum Mongol jugalah yang telah mengalahkan kerajaan Abasiyyah dan menghancurkan Baghdad sekitar kurun ke 12. Bangsa Mongol ini dikatakan membunuh manusia dengan kejam dan merosakkan apa yang mereka temui dalam siri penaklukan mereka. Bangsa ini jugalah yang menyebabkan Shih Huang Ti membina Tembok Besar China, dan kerja hebat itu disambung oleh raja-raja yang kemudian. Ada mungkin telah tahu nama-nama Genghis Khan, Kublai Khan dan Hulagu. Mereka ini adalah antara raja-raja Mongol yang terkenal dalam sejarah.

Doktor Al-Butiy berkata "Apa yang dikatakan oleh sesetengah mereka hanyalah merupakan satu pendapat atau ijtihad semata-mata bahawa (Yakjuj dan Makjuj) adalah orang-orang Tartar dan Mongol.." Ada pendapat yang menyatakan bahawa kaum Yakjuj dan Makjuj ini adalah dari bangsa Yahudi atau beragama Yahudi. Kaum Yahudi dikatakan pernah menduduki kawasan timur dan kemudiannya berpindah ke Eropah melalui Dariel Pass yang berada di banjaran gunung Caucasus. Dalam sebuah artikel oleh Colonel R.G. Pearse berjudul The National Message, banyak bukti telah dikemukakan bahawa kabilah Yahudi telah melalui kawasan Pergunungan Caucasia masuk ke Eropah pada kurun-kurun awal sebelum kelahiran Nabi Isa a.s. Colonel Pearse dikatakan telah tinggal di kawasan ini beberapa tahun. Ada dua jalan melalui gunung-ganang Caucasia ini. Satu darinya bernama Jalan Georgia, dan satu lagi adalah denai keldai, pada masa silam jalan ini dikenali sebagai "Lorong (Bani) Israel". Diceritakan bahawa bila 10 kabilah (Bani) Israel berpindah dari Guta di Media ke Arsareth, mereka (dalam bilangan yang ramai) perlu melalui banjaran Caucasia ini. Banjaran ini panjangnya beratus batu.. Mereka kemudiannya sampai ke (kaki) Gunung Kazbek, kemudian masuk ke siri gaung yang berbatu-batu, yang dinamakan Gaung Dariel, atau Gaung Darius... Kemudian melepasi kaki bukit, hingga muncul di dataran Eropah di Gerbang Caucasus.

Saya berpendapat bahawa walaupun kabilah Yahudi ini dikatakan telah berpindah melalui Lorong Dariel, belumlah dapat dipastikan sama ada mereka ini telah berpindah kesemuanya sebelum Tembok Zulkarnain dibina. Dan satu perkara lagi, hingga masa kini pun, sebenarnya Lorong Dariel boleh dilalui oleh sesiapa yang mengikut jalan di atas bumi. Maksud saya ialah, setakat yang saya faham, Tembok Zulkarnain itu dibina untuk mengepung kaum Yakjuj dan Makjuj dari keluar ke atas muka bumi, bukan mengepung dari satu kawasan atas bumi ke satu kawasan yang lain. Kemungkinan bahawa sebahagian dari kaum Yahudi inilah yang dinamakan kaum Yakjuj dan Makjuj dan mereka telah melakukan kerosakan yang besar di muka bumi mengatasi bangsa Mongol tapi kebanyakan dari peristiwa itu telah "dipadamkan" dari sejarah oleh bangsa Yahudi yang berada di atas bumi. Saya berpendapat demikian kerana antara banyak bangsa-bangsa di dunia ini, bangsa Yahudi adalah bangsa yang dianggap paling bongkak, kejam dan tidak berperi-kemanusiaan. Mereka ini menganggap bangsa-bangsa lain seperti binatang ternak yang "halal" disembelih. Lihatlah apa yang telah mereka lakukan ke atas rakyat Palestin pada masa sekarang.

Dalam kitab Al-Badu Wa At-Tarikh: "Semua ulama berpendapat bahawa Yakjuj dan Makjuj tinggal di sebelah timur muka bumi." Imam Al-Masudi berkata: "Mereka tinggal di bandar terpencil di sebelah timur jauh diantara sempadan negara China dan di hujung Mongolia. Di situ Iskandar Zulkarnain telah membina sebuah tembok yang besar bagi menyekat Yakjuj dan Makjuj daripada keluar ke muka bumi untuk membuat kerosakan." Tantawi Jauhari berkata: "Di dalam risalah-risalah terdahulu yang dikarang sekitar kurun ke 3 dan ke 4 telah menjelaskan bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah penduduk yang berada di sudut yang maju di utara China. Dihadkan negara mereka sekitar 27 darjah ke utara hingga 50 darjah. Negara ini sekarang merupakan bahagian yang besar di China dan ianya (lokasinya) sekarang merupakan ibu negaranya iaitu Beijing."

DI MANAKAH TEMBOK ZULKARNAIN?

Persoalan ini pun telah mendapat perhatian dari para sarjana Islam. Ramai yang telah mengkajinya dengan terperinci. Malah ada ekspedisi-ekspedisi silam yang telah dilakukan untuk mencari di mana letaknya tembok tersebut. Untuk mengelakkan dari menulis terlalu panjang, saya ringkaskan di sini bahawa setakat ini seolah-olah terdapat satu persetujuan bahawa lokasi Tembok Zulkarnain sudah ditemui. Saya telah melakukan carian demi carian untuk mendapatkan foto Tembok Zulkarnain tetapi masih gagal. Namun begitu, dalam artikel ini saya paparkan kawasan lokasi Tembok Zulkarnain untuk kita sama-sama renungkan.

Kawasan yang dipercayai terletaknya tembok Zulkarnain berada di Utara Georgia, selatan Rusia, iaitu di banjaran Gunung Caucasus (bahagian tengah Greater Caucasus Mountains), iaitu di kaki Gunung Kazbek. Kawasan ini dikenali sebagai Lorong Dariel atau Daryal (Dariel Pass, ketinggiannya ialah 3,950 kaki atau 1,204 meter dari aras laut). Kedudukannya berhampiran dengan Sungai Terek. Terdapat satu jalan tentera Georgia yang merentasi lorong ini (ini baru saja dibina oleh Rusia tahun 1850'an) dan sejak zaman silam ianya terkenal sebagai lorong yang dilalui untuk tujuan menjajah. Pada zaman silam, Lorong Dariel ini juga dikenali sebagai Gerbang Alan, atau Gerbang Caucasia, atau Gerbang Iberia.

Al-Marhum Abul Kalam Azad pun menyatakan begitu. Beliau mengakui bahawa di Georgia terdapat satu timbunan besar tembok yang dibuat daripada besi bercampur tembaga di Bukit Qawqaz (Caucasian Mountain) di suatu kawasan yang sempit iaitu antara dua bukit Darial (Dariel). Keadaan bukit itu curam memanjang dari Laut Hitam hingga Laut Qazwain. Ianya menghubungkan antara dua laut ini. Panjangnya 1,200 kilometer. Bukit Darial ini secara umumnya masih tidak terusik, masih teguh, mempunyai bentuk berlapis-lapis. Di sana ada suatu timbunan yang tinggi daripada besi tulen bercampur tembaga tulen di Tembok Darial. Ia adalah merupakan suatu hasil kerja menyumbat satu lubang yang ada di situ. Penduduk-penduduk tempatan takut untuk mengusik atau mengubahnya. Hanya perubahan semulajadi saja yang berlaku di situ. Terdapat proses penerokaan tanah berlaku di sebelah-menyebelah tembok itu, tapi tidak menjejaskan tembok itu sendiri. Ini menyebabkan wujudnya ruang-ruang kosong antara batu-batu bukit dan Tembok Zulkarnain, yang masih kukuh hingga sekarang. Nampaknya manusia di atas muka bumi pun tidak mampu untuk melubanginya mahupun mendakinya.

Banjaran Gunung Caucasia merupakan satu rekahan (fracture, sebagaimana "geological fault-line"), dan ia adalah pembahagi bukan saja dari sudut geografi dan budaya etnik, malah juga dari sudut geopolitik. Terdapatnya kaum yang ganas dan membuat kerosakan (bangsa Monggol) di sebelah utara menyebabkan Tembok Besar China telah dibina, begitu juga Tembok Hadrian (Roman Limes). Ada yang berpendapat bahawa Gerbang Caucasia dibina untuk melindungi Timur Tengah (dari kaum nomad bangsa Eurasia).

Gerbang Caucasia juga sering disebut sebagai "Pillars, Stronghold" atau "Iron Gate of Alexander The Great" oleh penulis-penulis klasik. Barat juga menganggap bahawa Tembok Zulkarnain (Gerbang Caucasia) ini dibina untuk mengepung Gog dan Magog dari melakukan keganasan dan kerosakan yang lebih banyak. Pada hari ini, lambang Georgia (matahari, bulan dan lima bintang) kononnya adalah sempena lambang Iskandar (Zulkarnain).

Kawasan pergunungan Caucasus ini agak unik. Di sini terdapat 62 bahasa yang dituturkan oleh 5 keluarga besar, budayanya juga berbagai. Kawasan ini juga terkenal sebagai kawasan yang selalu berlaku peperangan antara kaum, pertumpahan darah dan peperangan kolonial sejak zaman berzaman. Lorong Dariel (tempat Tembok Zulkarnain) berada di kaki Gunung Kazbek (5033m/16,800') dan Elbrus (5642m/18,800'). Kedua-dua gunung ini adalah gunung berapi yang aktif tapi sudah tidak meletup sejak 500 tahun lampau, menyebabkan penduduk tempatan menganggap ianya gunung berapi yang sudah mati.

Saya telah membuat beberapa siri carian di Internet, dan telah terjumpa antara bukti-bukti bahawa penduduk silam di kawasan ini mempunyai teknologi yang tinggi. Di kawasan Caucasia ini banyak ditemui batu-batu besar yang disusun (megaliths) yang dipercayai merupakan kepuk kubur (dolmens). Batu-batu ini telah dipotong rapi (high-precision) dan di batu tengahnya telah ditebuk satu lubang bulat. Kehalusan ukiran pada batu adalah amat tinggi, dianggap sehalus kemahiran pengukir permata (jeweller).

KESIMPULAN

Pada hemat saya kaum Yakjuj dan Makjuj ini mempunyai teknologi yang tinggi (mungkin yang diwarisi dari kaum yang telah musnah ketika taufan Nuh a.s.) dan masih membangunkan teknologinya hingga saat ini. Mengenai siapakah mereka ini sebenarnya, sama ada Mongol atau Tartar atau dari keturunan Yahudi adalah pendapat-pendapat yang hingga kini belum dapat disahkan. Mengenai di manakah Yakjuj dan Makjuj sekarang ini, saya berpendapat bahawa mereka ini terkepung di bawah bumi, bukan di atas bumi dan bukan pula di dimensi yang lain. Bolehlah diputuskan bahawa mereka ini adalah anak-anak Adam dan ciri-ciri mereka adalah sebagaimana manusia di atas muka bumi juga. Para sarjana Islam telah menolak kemungkinan bahawa mereka ini berupa seperti binatang atau berbentuk ganjil dan hodoh.

Satu perkara yang elok dicatat ialah ada sarjana berpendapat bahawa pada akhir zaman nanti kaum Yakjuj dan Makjuj ini keluar dari banyak tempat, bukan hanya dari Tembok Zulkarnain yang telah ditebuk. Keadaan mereka keluar itu ialah secara pantas, berpusu-pusu atau berlumba-lumba, iaitu suatu keadaan keluar dari tempat yang sempit. Saya berpendapat bahawa pada akhir zaman mereka ini akan meluru keluar dari tempat yang tinggi mungkin bermaksud bahawa mereka keluar dari kawasan pergunungan, bukan saja dari pergunungan Caucasus (Tembok Zulkarnain) tapi kawasan-kawasan tinggi yang lain seperti Himalaya. Kemungkinan mereka juga menebuk bekas kawah gunung berapi yang telah mati juga tidak mustahil. Apa pun, ini hanyalah pendapat saya yang serba tidak tahu. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui bagaimanakah keadaan Yakjuj Makjuj kini dan ketika ia keluar nanti.

Berita kaum Yakjuj dan Makjuj dan berita Zulkarnain wajib dipercayai oleh seluruh umat Islam kerana ianya secara jelas termaktub dalam Al-Qur'an. Kerana itu jugalah ulama Islam bukan saja telah meneliti berbagai sumber hadis, malah telah menghujahkan pendapat mereka dengan panjang lebar. Kajian demi kajian yang telah dilakukan sebelumnya telah dikaji semula oleh sarjana yang kemudian dengan teliti sekali. Begitulah sikap pengkaji Muslim sejak dari zaman kegemilangan Islam lagi. Sepatutnya sikap ini dapat diteruskan oleh sarjana Muslim zaman ini dan seterusnya zaman berzaman. Walaupun identiti Zulkarnain dan juga identiti Yakjuj dan Makjuj belum lagi bertemu kata putus, sebenarnya usaha-usaha para pengkaji mempunyai hikmah yang amat besar. Mereka telah menyingkap kembali sejarah kegemilangan banyak empayar silam dan ini telah didokumenkan untuk tatapan generasi kemudian. Pada hemat saya, kisah Yakjuj Makjuj dan Zulkarnain dalam Al-Qur'an adalah salah satu dari mukjizat Al-Qur'an itu sendiri. Ianya satu berita misteri besar yang mendorong banyak pengkaji untuk melakukan kajian demi kajian, secara berterusan zaman-berzaman selagi jawapan yang pasti belum ditemui. Umat Islam perlu memperhatikan, menyelidik dan mengkaji untuk menjadi umat yang hebat dan kaya dengan ilmu pengetahuan. Dan jangan lupa, itu semua pun adalah atas rahmat Allah Yang Maha Bijaksana.

Semoga Allah menambahkan ilmuNya kepada kita semua. InsyaAllah.

Wallahua'lam.
READ MORE - SIAPA SICH ZULKARNAIN?

Sabtu, 31 Juli 2010

Nasehat Untuk Remaja

Diposting oleh AKHWATimoet di 07.30 0 komentar
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa
ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
bersabda : “Tidak boleh seorang laki-laki bersama
seorang perempuan kecuali si perempuan tersebut
bersama mahramya. Dan seorang perempuan tidak
boleh bepergian kecuali bersama dengan
mahramnya. Kemudian seseorang bertanya kepada
beliau : “Wahai Rasulullah, isteriku akan pergi haji
sedang aku telah mendaftarkan diri untuk perang ini
dan itu?” Beliau menjawab : “Pergilah dan
berjihadlah bersama isterimu.” (Muttafaqun alaih).

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, lakilaki
dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya,
laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan
perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan
yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang
berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah,
Allah telah menjadikan untuk mereka ampunan dan
pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35).

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada
Allah, niscaya Allah menjadikan baginya
kemudahan dalam urusannya.” (At-thalaq : 4).

“Orang mu’min yang paling sempurna
imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan
orang yang paling baik diantara kalian adalah yang
paling baik terhadap para isterinya.” (Riwayat
Turmizi, dan katanya : hadits hasan shahih).

“Kalian adalah ummat terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyeru (mereka) kepada
yang ma’ruf dan mencegah (mereka) dari yang
mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali-Imran :
110).

“Agama itu adalah nasehat. “Kami bertanya :
“untuk siapa? “Beliau menjawab: “untuk Allah,
kitabNya, RasulNya, para imam orang-orang Islam,
dan untuk orang-orang awam mereka.” (riwayat
muslim).

“Dan (ingatlah) ketika Luqman kerkata
kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran
kepadanya ; ‘Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar suatu
kezaliman yang besar.” (Luqmam:31).

Sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam dari Amru bin Syuaib
dari bapaknya dari neneknya berkata : Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Perintahlah
anak-anakmu shalat pada umur ketujuh, dan pukul
mereka (jika tidak mengerjakannya) pada umur
kesepuluh dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”
(riwayat Abu Daud dengan sanad hasan).

Adakah bapak ibu telah mendidik para puteri
sejak kecil untuk mempunyai rasa malu, menutup
badan dan terbiasa memakai hijab syar’i secara
sempurna, terutama wajah mereka, dan
menjauhkan diri dari pergaulan kaum lelaki?

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
adalah maalikat-malaikat yang kasar, keras dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkanNya kepada mereka, dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-tahrim:
6).

“Wahai seluruh kaum remaja, barangsiapa
diantara kamu telah mempunyai kemampuan maka
kawinlah, karena hal itu lebih membantu menahan
pandangan mata dan menjaga kelamin. Dan barang
siapa belum mampu, hendaknya berpuasa, karena
itu merupakan obat baginya.” (muttafaq alaih).
READ MORE - Nasehat Untuk Remaja

Ad-diin

Diposting oleh AKHWATimoet di 07.25 0 komentar
A. PENGERTIAN Ad-diin

Diin secara lughoh adalah:


1. Ketaatan dan Ketundukan kepada hukum yang mutlak (Qs. 16:52, 40:65, 3:83)
2. Dienul Malik (Aturan/ UUD Kerajaan ) (Qs. 12:76)
3. Tanggungjawab/ Pembalasan (Qs. 1:4)

Sedangkan Diin menurut syara’ adalah: Read More...
Ummatan Wasathan
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu...( QS. 2 : 143 )
Kalimat thoyyibah " Laa ilaha illallah " para ulama mengatakan ada dua kandungan rukun, yaitu An-Nafyu (penafian) dan Al-itsbat (penetapan). Seorang muslim yang mereflesikan kalimat tauhid pasti menafikan segala yang disembah selain Ilahul Haq dan menetapkan hanya Allah saja yang berhak untuk disembah. Karena hanya Allah yang Haq, yang lain adalah Bathil. Itulah makna hakiki dari tauhid. Tetapi tauhid kita tidak hanya berhenti sampai disitu. Sebagai Khalifah, kita tidak boleh berhenti sekedar menafikan system barat ( Sekuler ), peradaban barat, budaya, gaya hidup dan seterusnya. . Read More...
Pengorbanan
Wahai mereka yang telah ridla Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai Diennya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Ketahuil, bahwasanya Allah telah menurunkan ayat dalam surat al-baqarah :

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepada kamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya : "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al Baqarah : 214) . Read More...


Makna Ad - Dien
Posted: 30 Jul 2010 02:40 AM PDT
A. PENGERTIAN “AD DIIN”

Diin secara lughoh adalah:

1. Ketaatan dan Ketundukan kepada hukum yang mutlak (Qs. 16:52, 40:65, 3:83)
2. Dienul Malik (Aturan/ UUD Kerajaan ) (Qs. 12:76)
3. Tanggungjawab/ Pembalasan (Qs. 1:4)

Sedangkan Diin menurut syara’ adalah:
لدِّينُ هُوَ مَا شَرَعَهُ اللَّه ُبِتَوْصِيَةِ رُسُْلِهِ وَ هُوَ فِطْرَتِهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لِسَلامَتِهِمْ فِى الدُنْيَا وَالاخِرَةِ بِرِضَاهِ
“Ad Dien adalah apa-apa yang disyari’atkan Allah SWT dengan taushiyah para rasul-Nya dan Dia adalah Fitrohnya yang telah menciptakan manusia dengannya untuk keselamatan mereka di dunia dan di akhirat dengan ridhonya”. Pahami Qs. 42:13, 30:30, 26:21, 49:16, 3:19

B. UNSUR-UNSUR “AD DIIN”

Unsur-unsur Ad Dien ada 3:

1. Hukum, sebagai wujud kongkrit dari eksistensinya “Rububiyyah Alloh” di alam semesta ini
2. Daar (Negeri), sbgai wujud kongkrit dari eksistensinya “Mulkiyyah Alloh” di kerajaan bumi ini
3. Jama’ah/ Ummat, sebagai wujud kongkrit dari eksistensinya “Uluhiyyah Alloh” dengan hanya memurnikan pengabdian kepada Alloh semata.

C. KLASIFIKASI “AD DIIN”

Klasifikasi Diin terbagi menjadi 2 yakni:

1) Dinul Haq

هُوَ مَا شَرَعَهُ اللَّهُ بِقُرْآنِهِ لِسَلامَةِ الانْسَانِ عَلَى الْفِطْرَةِ وَ اْلاسْلامُ دِيْنُ التَّوْحِيْدِ

“Sesuatu yang di syari’atkan Allah dengan Qurannya untuk keselamatan manusia atas fitrohnya, dan Islam adalah Diin Tauhid”.

2) Dinul Bathil

هُوَ مَا شَرَعَهُ الْمُشْرِكُوْنَ بِاَمَانِيِّهِمْ لِشَقَاوَةِ اْلانْسَانِ عَنِ الْفِطْرَةِ وَ غَيْرُ اْلاسْلامُ دِيْنُ التَّوْحِيْدِ

“Sesuatu yang di syari’atkan orang musyrik dengan angan-angannya untuk merusak manusia dari fitrohnya, dan Diin bukan Islam adalah Dien Syirik.

Alloh SWT. telah mensyari’atkan sejak Nabi Nuh, Nabi Ibrohim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad SAW hingga sampai saat ini yakni Penegakkan Dinul Islam dan Jangan Berpecah Belah.

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang diin apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah Diin dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. 42:13)

nilah wasilah (sarana/ cara) untuk bertakwa kepada Alloh dan mendekatkan diri kepada-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. 5:35)

D. SIKAP KITA TERHADAP DINUL HAQ (ISLAM)

1. Mengizharkannya diatas yang lain (9:33, 48:28, 61:10)

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”. (QS. 9:33)

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. 48:28)

2. Menegakkannya (QS. 42:13)

E. KAIFIYAT IQOMATUD DIIN DAN IZHARUD DIIN

Setelah memahami ma’rifatulloh maka akhirnya kita telah mengetahui syari’at Alloh. Unsur-unsur syari’at tersebut adalah Rububiyyah, Mulkiyyah dan Uluhiyyah.

1) Rububiyyah

Untuk mewujudkan eksistensi Rububiyyah Alloh di alam semesta ini maka yang harus dilakukan adalah TABLIGH yaitu Usaha menunjukkan jalan (5:67) = سَعْيٌ لِهِدَايَةِ الصِّرَاطِ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. 5:67)

Tabligh ini bisa berupa kabar gembira (tabsyir) dan berupa peringatan (indzar). Tabsyir ini bisa melalui proses ta’lim (keilmuan), sedangkan indzar bisa melalui proses tahkim (pemberian sangsi hukum). Inilah sarana (shirot) untuk menuju petunjuk (Shirotol mustaqim) yang baik (ma’ruf), perintah Alloh (amru) untuk dilaksanakan (imtitsal) melalui perbuatan (fi’lun) yang kokoh/ teguh (itsbat). Jangan sampai kita menuju Shirotol jahim yang rusak (munkar), dilarang Alloh (Nahyu) dan harus menjauhinya (Ijtinabu) dengan cara meninggalkannya (tarku). Inilah yang harus senantiasa disampaikan dan aplikasikan oleh seorang MUBALLIGH.


2) Mulkiyyah

Untuk mewujudkan eksistensi Mulkiyyah Alloh di kerajaan bumi ini maka yang harus ditempuh adalah JIHAD sebagai Gerakan mengamankan jalan (9:122, 8:74) = ضَرْبٌ لِحِمَايَةِ السَّبِيْلِ

“tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. 9:122)

“dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia”. (QS. 8:74)

JIHAD ini bisa berupa seruan (dakwah, 9:122) dan tempur/ perang (qital, 8:74). Dakwah ini berupa proses pemahaman Diin (tafaqqoh) yang berupa keilmuan. Sedangkan Qital berupa mobilisasi (nufur) yang berupa perbuatan yakni penggalangan kekuatan. Inilah sarana/ wadah (Sabilillah) menuju mardhotillah yang ma’ruf, perintah Alloh (amru) untuk dilaksanakan (imtitsal) melalui perbuatan (fi’lun) yang kokoh/ teguh (itsbat). Jangan sampai kita menuju sabilith thoghut yang rusak (munkar), dilarang Alloh (Nahyu) dan harus menjauhinya (Ijtinabu) dengan cara meninggalkannya (tarku). Inilah yang harus senantiasa disampaikan dan aplikasikan oleh seorang MUJAHID.

3) Uluhiyyah

Untuk mewujudkan eksistensi Uluhiyyah Alloh sebagai satu-satunya pengabdian maka yang harus ditempuh adalah TAUHID sebagai Pengayoman untuk membina jalan (98:5) = رَاْيٌ لِبِنَايَةِ الطَّرِيْقِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”. (QS. 98:5)

Tauhid ini ditujukan kepada Ummat dan Jama’ah. Tauhid yang dimiliki ummat yakni dengan memurnikan (ikhlash) pengabdiannya hanya kepada Alloh melalui pemahan keilmuan. Adapun tauhid yang dimiliki jama’ah (institusi) dengan adanya kepemimpinan (Imamah) sehingga hukum Alloh (Al Quran) sebagai sumber hukum dapat diaplikasikan melalui ketetapan-ketetapan Imam. Inilah sarana menuju “jannah” (Thoriqul Jannah) yang ma’ruf, perintah Alloh (amru) untuk dilaksanakan (imtitsal) melalui perbuatan (fi’lun) yang kokoh/ teguh (itsbat). Jangan sampai kita menuju Thoriqul Jahannam yang rusak (munkar), dilarang Alloh (Nahyu) dan harus menjauhinya (Ijtinabu) dengan cara meninggalkannya (tarku). Inilah yang harus senantiasa disampaikan dan aplikasikan oleh seorang MUWAHHID.

Wallohu a’lam bish showab

Abqtl/Iqraku
READ MORE - Ad-diin

Rabu, 28 Juli 2010

Misteri Yakjuj & Makjuj

Diposting oleh AKHWATimoet di 04.56 0 komentar
Misteri: Yakjuj, Makjuj dikurung dalam tembok ajaibOleh Nasron Sira Rahim DI sebalik pembinaan kota besar hasil kemajuan pembangunan dan kemodenan yang melanda hampir seluruh pelusuk dunia hari ini, masih terdapat satu kawasan rahsia di muka bumi ini yang menyimpan ribuan makhluk misteri. Sehingga kini, penerokaan demi penerokaan di seluruh kawasan bumi masih belum menemui wilayah asing itu sekali gus menyebabkan kewujudan makhluk terbabit tidak akan dikenal pasti pengkaji atau manusia umumnya. Bagaimanapun, kewujudan makhluk itu adalah sahih dan suatu hari nanti, mereka akan muncul juga di hadapan manusia. Akan tetapi, ketika makhluk itu muncul, sudah terlambat untuk manusia berbuat apa-apa lagi. Tiada lagi kajian mengenai sejarah kewujudan atau penyelidikan sains dilakukan terhadap makhluk itu seperti penemuan artifak atau spesies baru ketika ini kerana sewaktu munculnya makhluk dikenali Yakjuj dan Makjuj itu, dunia sudah terlalu hampir dengan kiamat! Sejak dikurung ribuan tahun lalu, kewujudan dan lokasi ‘pusat tahanan’ Yakjuj dan Makjuj masih menjadi misteri kepada manusia. Bagaimanapun, kewujudan dua makhluk itu adalah pasti lantaran ia dinyatakan dalam al-Quran serta tergolong dalam perkara ghaib yang wajib diimani manusia menerusi tanda besar berlakunya kiamat. Pensyarah Jabatan Al-Quran dan Al-Hadith, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (API-UM), Prof Madya Dr Fauzi Deraman, berkata Yakjuj dan Makjuj bukanlah berupa haiwan atau spesies lain sebaliknya ia adalah manusia yang berasal daripada keturunan Nabi Adam AS. Katanya, mengikut hadis, bangsa Yakjuj dan Makjuj berasal daripada keturunan anak lelaki Nabi Nuh AS iaitu Yafis yang berkembang melewati masa sehinggalah Zulkarnain membina tembok bagi menghalang mereka keluar dari lokasi mereka. “Cerita mengenai sejarah Yakjuj dan Makjuj tertera dalam al-Quran menerusi surah al-Kahfi, ayat ke-92 hingga 98 manakala kebangkitan mereka dinyatakan dalam surah an-Anbiyaa’, ayat ke-96 dan 97,” katanya. Allah berfirman menerusi ayat surah al-Kahfi itu: “Kemudian dia (Zulkarnain) menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia sampai antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. “Mereka berkata: ‘Hai Zulkarnain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang yang membuat kerosakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara mereka?’. “Zulkarnain berkata: ‘Apa yang dikuasakan Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan peralatan), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi’. “Hingga apabila besi itu sudah sama rata dengan kedua-dua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: ‘Tiuplah (api itu)’. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu. “Maka mereka tidak dapat mendakinya dan mereka tidak dapat melubanginya. Zulkarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat daripada Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku (kiamat), Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Tuhanku itu adalah benar’.” Dalam ayat surah an-Anbiyaa’ pula, Allah berfirman: “Hingga apabila dibukakan (tembok) Yakjuj dan Makjuj; dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan sudah dekatlah kedatangan janji yang benar (kaimat) maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.” Dr Fauzi berkata, selain dua surah al-Quran itu, terdapat banyak hadis kuat yang membicarakan mengenai Yakjuj dan Makjuj tetapi terdapat juga perbezaan pendapat di kalangan ulama mengenai ciri-ciri bangsa itu yang tidak diterangkan nas. “Hadis riwayat Imam Ahmad pula menerangkan ciri fizikal Yakjuj dan Makjuj yang antara lain bermuka bulat dan kulit kekuningan seperti wajah kebanyakan penduduk Asia Tengah. “Ulama juga cenderung mengatakan Yakjuj dan Makjuj berasal dan dikurung di benua Asia Tengah berdasarkan tafsiran ayat ke-90 dari surah al-Khafi yang menyebut Zulkarnain sampai ‘di tempat terbit matahari’ iaitu timur dunia,” katanya. Pendapat lain menambah yang Yakjuj dan Makjuj berkemungkinan berasal daripada bangsa Tartar dan Mongul manakala lokasi tahanan mereka adalah kawasan pergunungan luas Caucasus. Beliau berkata, kebanyakan ulama menyatakan yang bangsa itu terus wujud sehingga kini tetapi dipisahkan daripada dunia manusia oleh Allah SWT menerusi tembok dibina Zulkarnain itu. Katanya, tugas bangsa itu setiap hari sejak ribuan tahun lalu adalah mengorek tembok itu untuk tembus ke dunia manusia tetapi Allah masih menghalang mereka dengan kembali meneguhkan benteng berkenaan sehinggalah hampirnya hari kiamat. “Allah akan mengizinkan tembok itu runtuh dan Yakjuj dan Makjuj bebas ke dunia manusia apabila hampirnya kiamat dan peristiwa itu menjadi satu daripada 10 tanda besar kiamat,” katanya. Yakjuj dan Makjuj juga muncul selepas kematian Dajal yang dibunuh Nabi Isa AS dan bangsa itu akan mendatangkan kerosakan besar di muka bumi. Kekuatan mereka dikatakan luar biasa dan terlalu hebat sehingga tiada sesiapa yang mampu menewaskan kumpulan itu. “Nabi Isa AS memerintahkan manusia yang masih beriman berlindung di pergunungan bagi mengelak menjadi mangsa Yakjuj dan Makjuj; baginda kemudian berdoa kepada Allah SWT dan Allah membinasakan mereka dengan mengutuskan ulat yang menyerang belakang badan golongan itu sehingga mati. “Selepas bangsa Yakjuj dan Makjuj mati serta menjadi busuk, Allah mengutuskan seekor burung besar untuk mengangkut dan membersihkan mayat itu dari bumi,” katanya. Menyoroti dalil kewujudan Yakjuj dan Makjuj, manusia seharusnya yakin mempertahankan akidah Islam dan tidak bertangguh memohon keampunan dan keredaan Allah kerana mereka yang masih lalai adalah golongan yang diterangkan dalam surah an-Anbiyaa’ di atas seperti firman-Nya: “(Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.” FAKTA Yakjuj dan Makjuj Ketika kemunculannya, mereka dikatakan akan menuju ke sebuah tasik di Palestin dan akan minum air tasik itu sehingga kering. Memiliki zuriat yang ramai dan dikatakan tidak akan mati sehingga melahirkan lebih 1,000 zuriat. Tiada siapa mampu menewaskan mereka dan hanya binasa dengan kekuasaan Allah. Muncul selepas turunnya Nabi Isa AS dan Dajal. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan kebimbangannya apabila pada zaman baginda, Yakjuj dan Makjuj dikatakan sudah berjaya menebuk benteng Zulkarnain sebesar bulatan dibentuk ibu jari dan jari telunjuk.

Misteri: Yakjuj, Makjuj dikurung dalam tembok ajaibOleh Nasron Sira Rahim DI sebalik pembinaan kota besar hasil kemajuan pembangunan dan kemodenan yang melanda hampir seluruh pelusuk dunia hari ini, masih terdapat satu kawasan rahsia di muka bumi ini yang menyimpan ribuan makhluk misteri. Sehingga kini, penerokaan demi penerokaan di seluruh kawasan bumi masih belum menemui wilayah asing itu sekali gus menyebabkan kewujudan makhluk terbabit tidak akan dikenal pasti pengkaji atau manusia umumnya. Bagaimanapun, kewujudan makhluk itu adalah sahih dan suatu hari nanti, mereka akan muncul juga di hadapan manusia. Akan tetapi, ketika makhluk itu muncul, sudah terlambat untuk manusia berbuat apa-apa lagi. Tiada lagi kajian mengenai sejarah kewujudan atau penyelidikan sains dilakukan terhadap makhluk itu seperti penemuan artifak atau spesies baru ketika ini kerana sewaktu munculnya makhluk dikenali Yakjuj dan Makjuj itu, dunia sudah terlalu hampir dengan kiamat! Sejak dikurung ribuan tahun lalu, kewujudan dan lokasi ‘pusat tahanan’ Yakjuj dan Makjuj masih menjadi misteri kepada manusia. Bagaimanapun, kewujudan dua makhluk itu adalah pasti lantaran ia dinyatakan dalam al-Quran serta tergolong dalam perkara ghaib yang wajib diimani manusia menerusi tanda besar berlakunya kiamat. Pensyarah Jabatan Al-Quran dan Al-Hadith, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (API-UM), Prof Madya Dr Fauzi Deraman, berkata Yakjuj dan Makjuj bukanlah berupa haiwan atau spesies lain sebaliknya ia adalah manusia yang berasal daripada keturunan Nabi Adam AS. Katanya, mengikut hadis, bangsa Yakjuj dan Makjuj berasal daripada keturunan anak lelaki Nabi Nuh AS iaitu Yafis yang berkembang melewati masa sehinggalah Zulkarnain membina tembok bagi menghalang mereka keluar dari lokasi mereka. “Cerita mengenai sejarah Yakjuj dan Makjuj tertera dalam al-Quran menerusi surah al-Kahfi, ayat ke-92 hingga 98 manakala kebangkitan mereka dinyatakan dalam surah an-Anbiyaa’, ayat ke-96 dan 97,” katanya. Allah berfirman menerusi ayat surah al-Kahfi itu: “Kemudian dia (Zulkarnain) menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia sampai antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. “Mereka berkata: ‘Hai Zulkarnain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang yang membuat kerosakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara mereka?’. “Zulkarnain berkata: ‘Apa yang dikuasakan Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan peralatan), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi’. “Hingga apabila besi itu sudah sama rata dengan kedua-dua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: ‘Tiuplah (api itu)’. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu. “Maka mereka tidak dapat mendakinya dan mereka tidak dapat melubanginya. Zulkarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat daripada Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku (kiamat), Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Tuhanku itu adalah benar’.” Dalam ayat surah an-Anbiyaa’ pula, Allah berfirman: “Hingga apabila dibukakan (tembok) Yakjuj dan Makjuj; dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan sudah dekatlah kedatangan janji yang benar (kaimat) maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.” Dr Fauzi berkata, selain dua surah al-Quran itu, terdapat banyak hadis kuat yang membicarakan mengenai Yakjuj dan Makjuj tetapi terdapat juga perbezaan pendapat di kalangan ulama mengenai ciri-ciri bangsa itu yang tidak diterangkan nas. “Hadis riwayat Imam Ahmad pula menerangkan ciri fizikal Yakjuj dan Makjuj yang antara lain bermuka bulat dan kulit kekuningan seperti wajah kebanyakan penduduk Asia Tengah. “Ulama juga cenderung mengatakan Yakjuj dan Makjuj berasal dan dikurung di benua Asia Tengah berdasarkan tafsiran ayat ke-90 dari surah al-Khafi yang menyebut Zulkarnain sampai ‘di tempat terbit matahari’ iaitu timur dunia,” katanya. Pendapat lain menambah yang Yakjuj dan Makjuj berkemungkinan berasal daripada bangsa Tartar dan Mongul manakala lokasi tahanan mereka adalah kawasan pergunungan luas Caucasus. Beliau berkata, kebanyakan ulama menyatakan yang bangsa itu terus wujud sehingga kini tetapi dipisahkan daripada dunia manusia oleh Allah SWT menerusi tembok dibina Zulkarnain itu. Katanya, tugas bangsa itu setiap hari sejak ribuan tahun lalu adalah mengorek tembok itu untuk tembus ke dunia manusia tetapi Allah masih menghalang mereka dengan kembali meneguhkan benteng berkenaan sehinggalah hampirnya hari kiamat. “Allah akan mengizinkan tembok itu runtuh dan Yakjuj dan Makjuj bebas ke dunia manusia apabila hampirnya kiamat dan peristiwa itu menjadi satu daripada 10 tanda besar kiamat,” katanya. Yakjuj dan Makjuj juga muncul selepas kematian Dajal yang dibunuh Nabi Isa AS dan bangsa itu akan mendatangkan kerosakan besar di muka bumi. Kekuatan mereka dikatakan luar biasa dan terlalu hebat sehingga tiada sesiapa yang mampu menewaskan kumpulan itu. “Nabi Isa AS memerintahkan manusia yang masih beriman berlindung di pergunungan bagi mengelak menjadi mangsa Yakjuj dan Makjuj; baginda kemudian berdoa kepada Allah SWT dan Allah membinasakan mereka dengan mengutuskan ulat yang menyerang belakang badan golongan itu sehingga mati. “Selepas bangsa Yakjuj dan Makjuj mati serta menjadi busuk, Allah mengutuskan seekor burung besar untuk mengangkut dan membersihkan mayat itu dari bumi,” katanya. Menyoroti dalil kewujudan Yakjuj dan Makjuj, manusia seharusnya yakin mempertahankan akidah Islam dan tidak bertangguh memohon keampunan dan keredaan Allah kerana mereka yang masih lalai adalah golongan yang diterangkan dalam surah an-Anbiyaa’ di atas seperti firman-Nya: “(Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.” FAKTA Yakjuj dan Makjuj Ketika kemunculannya, mereka dikatakan akan menuju ke sebuah tasik di Palestin dan akan minum air tasik itu sehingga kering. Memiliki zuriat yang ramai dan dikatakan tidak akan mati sehingga melahirkan lebih 1,000 zuriat. Tiada siapa mampu menewaskan mereka dan hanya binasa dengan kekuasaan Allah. Muncul selepas turunnya Nabi Isa AS dan Dajal. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan kebimbangannya apabila pada zaman baginda, Yakjuj dan Makjuj dikatakan sudah berjaya menebuk benteng Zulkarnain sebesar bulatan dibentuk ibu jari dan jari telunjuk.










Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

“Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”.” (QS. Al-Kahfi: 94)

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Anbiya: 96)

Ya-juj dan Ma-juj dalam Hadits Dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini!” Beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Jenis dan Asal Usul Ya-juj dan Ma-juj

Berdasarkan pendapat yang paling kuat, Ya-juj dan Ma-juj merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia. Hanya saja, para ulama berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam ‘alaihis salam dan Hawa atau dari Adam saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh ‘alaihis salam dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh mempunyai tiga anak, Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts bin Nuh.

Menurut Al-Maraghi, Ya-juj dan Ma-juj berasal dari satu ayah yaitu Turk. Ya-juj adalah At-Tatar (Tartar) dan Ma-juj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin. Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. “Batu” anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina.

Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H.

Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang banyak keturunannya. Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar.

Pada QS. Al-Kahfi:94, Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang kasar dan biadab. Jika mereka melewati perkampungan, membabat semua yang menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduk. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.

Siapakah Dzulkarnain?

Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir.

Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan Al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” (QS. Al-Kahfi: 84)

Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M.). Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.

Dzulqarnain seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan, atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.

Benarkah Tembok Cina Adalah Tembok Zulkarnain?

Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al-Kahfi. Dan yang disebut Ya-juj dan Ma-juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.
Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.

Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dan seterusnya, sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al-Kahfi: 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman, “Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

Beberapa Penelitian Tembok Ya’juj

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al-hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.

Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 meter dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.



Letak Perkiraan Tembok Besi Berada

Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di pegunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam maupun Rusia, terletak di republik Georgia.

Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.
Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu Sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.

Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.

27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj dan Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.

Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma-juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya-juj-Ma-juj itu.

Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, dan membunuh suku-suku lain. Mereka pembuat onar dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.

Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya-juj-Ma-juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.

Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah, pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.

Ditulis oleh: Damar Dwiyadi Pratama
READ MORE - Misteri Yakjuj & Makjuj

Senin, 26 Juli 2010

ARRAHMAN

Diposting oleh AKHWATimoet di 03.34 0 komentar
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan” Arrahman (55) ayat 13,16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 75, 77)

Allah menyebut kalimat tersebut dalam surat Arrahman sebanyak 30 kali. Dalam ayat-ayat tersebut tersirat bahwa begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia tapi sedikit sekali manusia mensyukuri apa yang Allah berikan, bahkan manusia senantiasa mengingkari dan mendustakan apa yang telah Allah berikan dan mengkalim bahwa karena dirinyalah dia sukses. Sebagai contoh Allah menerangkan kisah Qorun yang kikir dan sombong dalam Al-Qur’an:

“Dia Qorun berkata, “Sesunguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku…..”

(Al Qashash: 78)

Sungguh Qorun adalah manusia yang kikir dan sombong dia merasa bahwa karena ilmunyalah dia bisa menjadi orang kaya, padahal kalau kita berfikir mana mungkin kita bisa sukses tanpa ada campur tangan dari Allah SWT. Apakah kita bisa melihat kalau kenikmatan melihat itu dicabut oleh Allah SWT dan apakah kita bisa berjalan kalau kaki kita tiba-tiba dilumpuhkan oleh sang pemilik kaki itu sendiri. Semuanya adalah milik Allah dan manusia tak memiliki apapun karena semuanya adalah pinjaman yang Allah percayakan kepada kita, bagaimana jika Allah tak mempercayai kita lagi? Apa yang akan kita lakukan di dunia ini.

“Apakah kamu merasa akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggung jawaban”

Ayat diatas mengatakan bahwa Allah menciptakan kita dengan sebuah tujuan, bukan untuk berdiam diri saja dan tidak berusaha sedikitpun, bukan pula sibuk dengan rutinitas kerja hingga kita terlupa akan Allah, tapi Allah menyuruh kita untuk berusaha dan tetap mengingat Allah secara balance, karena segala sesuatunya akan dipertanggung jawabkan, anak-anak kita, harta-harta kita dan apapun yang kita cintai.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka itulah orang-orang yang rugi”. (Qs. Al-Munafiqun [63]: 9)

Seberapa besar kecintaan kita kepada harta, anak, tahta atau lawan jenis kita, tak seharusnya melebihi cinta kita kepada Allah, karena semua itu adalah ujian. Barang siapa yang mampu bersyukur dan bersabar, maka merekalah yang niscaya termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung. Namun barang siapa yang kufur serta selalu mengikuti nafsu dan emosi semata, maka niscaya merekalah yang berada dalam kumpulan orang-orang yang merugi.

Maka dengan adanya ujian melalui nikmat harta, nikmat keluarga, musibah dan kedukaan yang kita alami, sudah sepatutnya manusia bersyukur dengan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah dengan menjaga amanatnya sebagai sebuah tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, karena apabila kita lulus ujian maka Allah akan meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaan kita.

“Jika kalian bersyukur, pasti Aku (Allah) akan tambah (kenikmatan) untuk kalian, dan jika kalian ingkar, sesunggahnya adzab-Ku sangatlah pedih.” (Ibrahim: 7)



Wallahu alam bisawab.
READ MORE - ARRAHMAN

AKHWAT SEJATI

Diposting oleh AKHWATimoet di 03.32 0 komentar
Seorang gadis cilik bertanya pada Ayahnya
“Abi…ceritakan padaku tentang Akhwat Sejati”

Sang Ayah pun menoleh dan tersenyum seraya menjawab
Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dari
kecantikan hati yang ada dibaliknya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tapi dilihat dari
sejauh mana Ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari begitu banyak kebaikan yang diberikan, tetapi dari
keikhlasan Ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dari
apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari keahlIannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya berbicara.

Sang Ayah terdIam sembari menatap putrinya
“Lantas apa lagi Abi…?”

Ketahuilah putriku….
Akhwat Sejati bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian, tetapi dilihat dari
sejauh mana Ia berani mempertaruhkan kehormatannya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari
kekhawatirannya yang mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujIan yang Ia jalani, tetapi dilihat dari
sejauh mana Ia menghadapi ujian itu dengan Syukur.
Dan Ingatlah…!!!

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari
sejauh mana Ia bisa menjaga kehormatannya dalam bergaul.

Setelah itu Sang anak kembali bertanya
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu Abi…?”

Sang Ayah memberikan sebuah buku dan berkata
“Pelajarilah mereka!!”

Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan
“ISTRI PARA NABI”

Meski kita bukanlah salah satu dari Istri Nabi
Tapi meneladaninya adalah sebuah bentuk kecintaan kita terhadap
Allah SWT
READ MORE - AKHWAT SEJATI

Senin, 02 Agustus 2010

IA TELAH MEMILIH MENJADI BIDADARI DI SYURGA

"Semalaman ia nyaris tidak tertidur.Sampai tengah malam dia masih membaca AL-QUR'AN.Tatkala saya terjaga,dia sedang asyik sholat malam.Dia asyik baca ayat-ayat AN-NAABA sambil menangis" ujar sang ibu.
Usai subuh ,AYAT AL-AKHRAS (16) remaja shalihah itu kembali membaca AL-QUR'AN. Ayat-ayat jihad panjang dibacanya berulang-ulang dengan nada bergetar.Sesekali ia terhenti,menahan isak tangis..Menjelang pukul 06.00 waktu Palestina, dia menulis sesuatu di meja belajar. Sejurus kemudian Ayat sudah berseragam dan bergegas menuju dapur untuk menemui ibunya.
Kepada Ny.AL-AKHRAS, dia pamit hendak pergi ke sekolah."Ada tugas tambahan. Hari ini boleh menjadi saat terpenting dalam hidup ini.Saya mohon do'a restu ibu,"ucapnya dengan mata berbinar.
Ny AL-AKHRAS tercekat. Dia sedikit bingung, heran , dan kaget melihat tingkah putrinya."Semoga ALLAHselalu melindungi dan merahmatimu Anakku. Tapi , bukankah Jum'at adalah hari libur?"
"Do'a Ibunda yang nanda harap,"jawabnya. Ayat tak lagi berkata-kata.Dia hanya tersenyum dikulum,cium tangan, kemudian memeluk erat sang ibu yang masih kebingungan.Dan dengan tetap tersenyum, dia menarik tangan adiknya,Samaah(10) .Merekapun sama-sama bergegas ke sekolah.
Beberapa jam kemudian, pukul 10 waktu setempat,Radio Israel memberitakan ledakan bom di supermarket Nataynya, dekat Yerussalem. Peristiwa ini ini menyebabkan tiga orang tewas dan lebih dari 40 orang luka-luka.
Jantung Ny AL-AKHRAS berdegup kencang menyimak kabar itu."Jangan-jangan dia.........."bisiknya saat itu. Firasatnya menguat manakala dia mendapatkan Samaah pulang sendirian sambil terisak-isak. Dia mengaku tak tahu persis ke mana sang kakak pergi.AYAT kata dia, hanya berpesan,"Jangan cemas dan takut ALLAH bersama kita orang-orang yang beriman.Sampaikan salam buat semua , dan berdo'alah .Muda-mudahan ALLAH memberikan pengampunan dan kemenangan!"
Di kamp pengungsian , Ny Al-AKHRAS cemas dengan nasib anaknya.Batinnya bertanya-tanya "Kemana dia pergi? Apakah dia sudah mewujudkan impiannya untuk menjadi syahidah?" Pertanyaan lain terus bermunculan dibenaknya.Bagaimana dengan impiannya yang lain? Soal pinangan , rencana pernikahan, dan pakaian pengantin yang sudah di jahitnya sendiri?Bukankah dia juga bercita-cita untuk melahirkan anak-anak, kemudian membina mereka menjadi mujahid-mujahid tangguh?"
Sementara pikiran liarnya bertanya-tanya , kalbunya mendapat isyarat bahwa calon mempelai itu telah gugur dalam aksi bom syahid."Inna lilllahi wainna ilaihi raji'un.Semoga ALLAH mencatatnya sebagai syahidah.Mudah-mudahan dia juga bisa menjadi pengantin Palestina yang bisa melahirkan kehornatan dan kemerdekaan bagi umat dan bangsanya"' demikian ucap sang ibu ketika mendapat kepastiaan beritanya.
Jum'at siang itu Ayat Al-Akhras pergi mengikuti jejak Issa Farah dan Saa'id , dua kerabatnya , yang gugur diterjang helikopter Israel.
Lahir 20 February 1985 di kamp DHEISHES.Di akhir hayatnya dia tercata sebagai siswa kelas tiga sekolah menengah atas.Ayat menurut ABC News,termasuk anak cerdas dan rajin belajar.Sampai saat-saat menjelang syahidnya , dia masih rajin menasehati teman-teman untuk terus belajar ."Penguasaan ilmu teknologi amat penting dan diperlukan untuk mendukung perjuangan kita, apapun bentuknya."
HAYFAA, teman baiknya, berujar ,"Dia selalu menasehati kami bahwa belajar harus tetap berjalan, meski rintangan dan bahaya mengancam disekeliling kita."
Tentang jihat Ayat selalu berkata," Jihad itu kewajiban setiap Muslim .Ternasuk wanita.Mengapa kita harus membiarkan nyawa kita terenggut sia-siaoleh kebiadapan zionis Israel." KEMATIAN SEORANG MUJAHID , KATA DIA , AKAN MEMBANGKITKAN KEBERANIAN MUJAHID-MUJAHID YANG LAIN, BUKAN SEBALIKNYA.
Meski tahu syahidah adalah cita-cita tertinggi anaknya, Ny.AL-ALKHRAS tetap saja merasa kehilangan .Dengan mata berlinang, dia mengulangi kata-kata sang anak ketika berdiskusi soal kewajiban jihad bagi setiap warga muslim Palestina." APA NIKMATNYA HIDUP DIDUNIA KETIKA KEMATIAN SELALU MENGINTAI KITA.MANA YANG LEBIH INDAH, MATI DALAM KETIDAKBERDAYAANDAN KEHINAAN ATAU GUGUR DI MEDAN JIHAD."
Samaah , adik sekaligus teman terdekatnya, merasakan hal yang sama.Sambil terus menangis , dia berkisah tentang saat-saat terakhir bersama kakaknya."Saya melihat cahaya dimukanya dan sebuah rona kebahagiaan tak pernah dilihat sebelumnya." Sambil memberi sepotong coklat, manis, lanjutnya, Ayat berkata lirih,"Shalat dan do'akan agar kakak sukses melaksanakan tugas suci ini."
"Tugas apa?" Samaah bertanya,"Hari ini kamu akan mendengar satu berita baik .Mungkin inilah hari terbaik dalam hidup saya.Inilah hari yang selama yang lama saya nantikan. Tolong sampaikan salam hormat saya kepada AKH SHAADI," tutur Ayat sambil memberikan secarik kertas.
Shaadi Abu Laan(20) , calon suami Ayat, termangu beberapa saat ketika kabar itu sampai padanya.Dia nyaris tak percaya Ayat pergi begitu cepat mendahuluinya.Padahal Juli ini , jelas Shaadi , "Kami sudah berencana untuk resmi berumah tangga.Begitu Ayat lulus ujian, kami akan menempati rumah sederhana yang belum didekor."Mereka , sudah satu setengah tahunber- khitbah (saling meminang). Keduanya bahkan telah menyiapkan nama ADIYY untuk bayi pertamanya.
"ALLAH ternyata punya rencana lain,"ucap SHAADI."Semoga kami bisa bertemu di syurga kelak, dia mencintai agamanya lebih dari apapun."

SIAPA SICH ZULKARNAIN?

Dikutip dari beberapa Situs

Sebenarnya pendapat popular bahawa Zulkarnain adalah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great) telah dinafikan oleh ramai sarjana Islam kerana setelah dikaji latarbelakang Iskandar Zulkarnain, ternyata bahawa beliau bukanlah seorang yang berperibadi mulia sebagaimana Zulkarnain yang diberitakan di dalam Al-Qur'an. Atas sebab itu sarjana yang kemudian telah mengkaji lagi dan mencari siapakah sebenarnya Zulkarnain itu.

Wahab bin Munabbih berpendapat bahawa Zulkarnain adalah seorang raja Yaman bernama As-Sha'ab Zulkarnain bin Al-Harith Zu Murathid bin Amru Al-Hammal Zu Manah bin Aad Zu Syidad bin Emir bin Al-Milthat bin Saksak bin Wail bin Himyar bin Saba' bin Yusyiab bin Yi'rab bin Qahtan bin Hud a.s. bin Emir bin Syalikh bin Arfafksyad bin Sam bin Nuh a.s. Menarik juga kisah As-Sha'ab Zulkarnain ini kerana baginda ini dikatakan hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan satu lagi perkara menarik ialah bahawa Nabi Khidir a.s. adalah menteri kanan kepada As-Sha'ab dan Khidir a.s. telah mengikuti baginda bersama-sama dalam siri pengembaraan baginda untuk menakluki negeri-negeri lain. Malah Khidir a.s. dikatakan telah menghilangkan diri selepas As-Sha'ab Zulkarnain mangkat.

Seorang lagi raja yang dikaitkan dengan Zulkarnain ialah Kaurasyh Al-Ikhmini. Pendapat ini dikemukakan oleh Abul Kalam Azad, bekas Menteri Pendidikan India. Beliau telah menyelidik sejarah Parsi kuno dan menemukan seorang raja yang terbilang sejarahnya. Kaurasyh dikenali oleh orang Greek sebagai Syrus, dan orang-orang Yahudi menggelarnya sebagai Khauras. Selain dari merupakan raja yang agung, Khaurasyh dikatakan bersifat adil, hubungan dengan rakyat jelata adalah baik, dan menunjukkan sifat-sifat kemanusiaan yang mulia.

Jika mahu dicatat satu persatu berkaitan tiga raja yang dikaitkan dengan Zulkarnain dalam Al-Qur'an itu akan jadi amat panjanglah artikel ini. Memadailah untuk saya catat di sini pendapat Muhammad Khair Ramadhan Yusuf yang telah mengkaji dengan terperinci mengenai raja-raja berkaitan. Beliau berpendapat bahawa adalah lebih baik untuk tidak mengaitkan salah satu dari tiga raja ini sebagai Zulkarnain yang disebut di dalam Al-Qur'an. Adalah lebih baik bagi kita menganggap bahawa Zulkarnain yang di sebut di dalam Al-Qur'an itu sebagai seorang raja agung yang beriman, yang berperibadi mulia. Saya sendiri pun bersetuju dengan beliau, kerana pendapat-pendapat ulama berkaitan perkara tersebut adalah sekadar pendapat dan belum lagi mencapai tahap pembuktian yang benar-benar kukuh. Mungkin pada satu hari nanti ulama Islam akan menemui bukti siapakah Zulkarnain yang dimaksudkan di dalam Al-Qur'an. InsyaAllah.

YAKJUJ DAN MAKJUJ DARI BERBAGAI SUMBER

Dari susut perkataan Yakjuj dan Makjuj, Imam Al-Alusi, Ibnu Manzur dan Al-Hafiz Ibnu Hajar berpendapat bahawa perkataan Yakjuj dan Makjuj berasal dari bahasa asing (bukan bahasa Arab). Sesetengah ulama lain mengatakan ia berasal dari bahasa Arab. Abul Kalam Azad pula menyatakan bahawa perkataan Yakjuj dan Makjuj berasal daripada bahasa Ibrani, dan pada asalnya ia adalah bahasa asing. Masyarakat Yunan menyebutnya sebagai Gog dan Magog.

Berbagai pendapat telah dikemukakan mengenai asal-usul kaum Yakjuj dan Makjuj. Menurut Imam Al-Alusi, Wahab bin Munabbih, dan ramai ulama termasuk pada masa kini, Yakjuj dan Makjuj berasal dari kalangan anak-anak Yafith bin Nuh a.s. Al-Kisai menyatakan dalam kitab Al-Ara'is bahawa Yafith ada lima anak iaitu Jumar, Banras, Asyar, Askuwail dan Mayasheikh, dan Yakjuj dan Makjuj berasal dari keturunan Asyar. Hadis dari Ibnu Abi Hatim dan Hakim melalui Abu Hurairah menyatakan bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah dari keturunan Yafith bin Nuh a.s. Sesetengah ulama berpendapat bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah dari keturunan Yafith iaitu bapa kepada bangsa Turki, dan mereka menamakannya sebagai bangsa Turki kerana Yakjuj dan Makjuj itu "terpisah atau tinggal" pada satu arah di belakang tembok. Ada juga yang berpendapat bahawa Yakjuj berasal dari Turki sementara Makjuj pula berasal dari Al-Gel dan Ad-Dailam.

Dari segi sifat Yakjuj dan Makjuj pula, banyak pendapat yang berbeza-beza telah dikemukakan oleh para ulama. Sebahagiannya dianggap terlalu aneh, pelik dan menyimpang dari realiti dan telah dianggap sebagai dongeng Isra'iliyat. Para pengkaji percaya bahawa Yakjuj dan Makjuj digambarkan oleh sebahagian ulama sedemikian rupa semata-mata untuk menarik minat pembaca. Sepatutnya Yakjuj dan Makjuj tidak digambarkan sewenangnya hingga boleh mendatangkan kekeliruan kepada umat Islam. Ibnu Jarir ada meriwayatkan daripada Wahab bin Munabbih secara terperinci mengenai kisah Zulkarnain dan pembinaan tembok, tetapi tidak menyentuh mengenai sifat-sifat Yakjuj dan Makjuj. Para pengkaji berpendapat bahawa hadis-hadis ganjil berkaitan sifat Yakjuj dan Makjuj ini tidak sah dari segi sanadnya. Secara umumnya kini para pengkaji berpegang pada prinsip bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah manusia, anak-anak Adam, dari keturunan Yafith bin Nuh a.s. Sheikh Abdul Karim Khatib menyatakan bahawa tidaklah diketahui sama ada Yakjuj dan Makjuj punya perbezaan ketara dari sudut tubuh, mungkin ada kelainan dari segi warna kulit, akhlak dan adat, tapi mungkin dari sudut kekuatan dan membentuk kerajaan.

Menurut hadis diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Mardhawiyyah melalui Ibnu Amru bin Aus daripada datuknya, bahawa Yakjuj dan Makjuj ini berjima' secara bebas dengan perempuan dari kalangan mereka (maksudnya mereka menjima' sesuka hati) dan ikatan perkahwinan mereka dibentuk mengikut kehendak mereka sendiri. Ibnu Hajar berkata bahawa di kalangan Yakjuj Makjuj ada yang mahir dalam sektor perkilangan, pemerintahan dan sebagainya, dan anggota kerajaan serta rakyat amat patuh kepada ketua. Ibnu Hajar juga berpendapat bahawa mereka mempunyai pokok-pokok dan tanaman-tanaman dan juga peralatan-peralatan.

Berapa ramaikah bilangan Yakjuj dan Makjuj? Ada yang berpendapat bahawa jika dirujuk pada Surah Al-Anbiya' Ayat 96, ternyata bahawa Yakjuj dan Makjuj turun dalam keadaan laju dari tempat yang tinggi dan keadaan mereka (kelajuannya) adalah seperti serigala berjalan. Dan jelas bahawa ayat itu menunjukkan jumlah mereka adalah ramai. Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Mardhawiyyah melalui Abdullah bin Amru, juga diriwayatkan oleh Abdu bin Hamid melalui sanad sahih daripada Abdullah bin Salam: "Sesungguhnya (Yakjuj dan Makjuj) daripada zuriat Adam dan di belakang mereka ada tiga umat, tidak mati di kalangan mereka melainkan meninggalkan lebih daripada seribu zuriat. Dari Tabrani dan Ibnu Mardhawiyyah dan Al-Baihaqi dan Abdu bin Hamid daripada Ibnu Umar: "Dinamakan (Yakjuj dan Makjuj) kepada tiga umat: Tawil, Taris dan Mansik". Imam Al-Alusi berpendapat bahawa Yakjuj dan Makjuj mempunyai umur yang paling panjang. Ibnu Kathir telah berkata bahawa bilangan mereka tidak dapat ditetapkan, tetapi pasti jumlah mereka sangat ramai.

Apakah jenis kerosakan yang dilakukan oleh Yakjuj dan Makjuj? Sesetengah ulama berpendapat bahawa mereka ini melakukan kerosakan dan keganasan dengan menerkam ke atas mangsanya seperti binatang yang merangkak, liar dan ganas. Mereka juga memakan ular, kala dan semua yang bernyawa. Al-Kalbi berpendapat: "Mereka ini keluar ke bumi pada musim bunga dan memakan semua yang dijumpainya sama ada yang hijau atau yang kering. Mereka juga membawanya masuk ke dalam bumi. Dan sesiapa yang berjumpa dengan mereka nescaya akan disiksa dan dibunuh." Sesetengah ulama lain berpendapat bahawa mereka memakan manusia dan merosakkan apa yang ada di bumi setelah mereka keluar.

Sebahagian ulama' berpendapat bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah orang Mongol. Syed Qutub seorang pengkaji Islam yang masyhur berpendapat bahawa ada kemungkinan Yakjuj dan Makjuj adalah orang Mongol, kerana itulah orang Mongol dan Tartar mengganas serta membuat kebinasaan di Timur. Doktor Abdul Halim berpendapat bahawa Tartar adalah nama bagi bangsa yang berlainan petunjuk dengan sebab berlainan masa, tapi Thomson berpendapat bahawa Tartar merupakan nama yang digelarkan ke atas bangsa Mongol atau satu puak daripada mereka, dan bukan ke atas bangsa Turki. Thomson juga berkata bahawa orang-orang Turki telah keluar dari Mongolia sebagai jalan penyelesaian, dan tempat mereka diganti oleh orang-orang Mongol. Setengah dari kaum Tartar telah berpakat dengan puak Turki ketika keluar dari Mongolia dan berpindah bersama dari Asia Tengah menuju ke arah barat. Ibnu Al-Athir menggelarkan "At-Taiman" terhadap nenek-moyang Genghis Khan, dan mereka ini dianggap nenek-moyang bangsa Tartar. Ternyata bahawa bangsa yang asalnya berketurunan Mongol dan bertutur bahasa Mongolia adalah Tartar. Nama Mongol dan Mongolia mula digunakan secara rasmi oleh Genghis Khan. Imam Al-Qasimi juga berpendapat bahawa mereka adalah orang Mongol dan Tartar.

Persoalan mengenai siapakah Yakjuj dan Makjuj juga telah mendapat perhatian dan telahpun dikaji dengan terperinci oleh sarjana-sarjana Islam. Secara ringkasnya, ada yang berpendapat bahawa kaum ini adalah bangsa Mongol dan Tartar yang memang terkenal ganas dan telah menyerang dan menakluki sebahagian besar muka bumi, dan kaum Mongol jugalah yang telah mengalahkan kerajaan Abasiyyah dan menghancurkan Baghdad sekitar kurun ke 12. Bangsa Mongol ini dikatakan membunuh manusia dengan kejam dan merosakkan apa yang mereka temui dalam siri penaklukan mereka. Bangsa ini jugalah yang menyebabkan Shih Huang Ti membina Tembok Besar China, dan kerja hebat itu disambung oleh raja-raja yang kemudian. Ada mungkin telah tahu nama-nama Genghis Khan, Kublai Khan dan Hulagu. Mereka ini adalah antara raja-raja Mongol yang terkenal dalam sejarah.

Doktor Al-Butiy berkata "Apa yang dikatakan oleh sesetengah mereka hanyalah merupakan satu pendapat atau ijtihad semata-mata bahawa (Yakjuj dan Makjuj) adalah orang-orang Tartar dan Mongol.." Ada pendapat yang menyatakan bahawa kaum Yakjuj dan Makjuj ini adalah dari bangsa Yahudi atau beragama Yahudi. Kaum Yahudi dikatakan pernah menduduki kawasan timur dan kemudiannya berpindah ke Eropah melalui Dariel Pass yang berada di banjaran gunung Caucasus. Dalam sebuah artikel oleh Colonel R.G. Pearse berjudul The National Message, banyak bukti telah dikemukakan bahawa kabilah Yahudi telah melalui kawasan Pergunungan Caucasia masuk ke Eropah pada kurun-kurun awal sebelum kelahiran Nabi Isa a.s. Colonel Pearse dikatakan telah tinggal di kawasan ini beberapa tahun. Ada dua jalan melalui gunung-ganang Caucasia ini. Satu darinya bernama Jalan Georgia, dan satu lagi adalah denai keldai, pada masa silam jalan ini dikenali sebagai "Lorong (Bani) Israel". Diceritakan bahawa bila 10 kabilah (Bani) Israel berpindah dari Guta di Media ke Arsareth, mereka (dalam bilangan yang ramai) perlu melalui banjaran Caucasia ini. Banjaran ini panjangnya beratus batu.. Mereka kemudiannya sampai ke (kaki) Gunung Kazbek, kemudian masuk ke siri gaung yang berbatu-batu, yang dinamakan Gaung Dariel, atau Gaung Darius... Kemudian melepasi kaki bukit, hingga muncul di dataran Eropah di Gerbang Caucasus.

Saya berpendapat bahawa walaupun kabilah Yahudi ini dikatakan telah berpindah melalui Lorong Dariel, belumlah dapat dipastikan sama ada mereka ini telah berpindah kesemuanya sebelum Tembok Zulkarnain dibina. Dan satu perkara lagi, hingga masa kini pun, sebenarnya Lorong Dariel boleh dilalui oleh sesiapa yang mengikut jalan di atas bumi. Maksud saya ialah, setakat yang saya faham, Tembok Zulkarnain itu dibina untuk mengepung kaum Yakjuj dan Makjuj dari keluar ke atas muka bumi, bukan mengepung dari satu kawasan atas bumi ke satu kawasan yang lain. Kemungkinan bahawa sebahagian dari kaum Yahudi inilah yang dinamakan kaum Yakjuj dan Makjuj dan mereka telah melakukan kerosakan yang besar di muka bumi mengatasi bangsa Mongol tapi kebanyakan dari peristiwa itu telah "dipadamkan" dari sejarah oleh bangsa Yahudi yang berada di atas bumi. Saya berpendapat demikian kerana antara banyak bangsa-bangsa di dunia ini, bangsa Yahudi adalah bangsa yang dianggap paling bongkak, kejam dan tidak berperi-kemanusiaan. Mereka ini menganggap bangsa-bangsa lain seperti binatang ternak yang "halal" disembelih. Lihatlah apa yang telah mereka lakukan ke atas rakyat Palestin pada masa sekarang.

Dalam kitab Al-Badu Wa At-Tarikh: "Semua ulama berpendapat bahawa Yakjuj dan Makjuj tinggal di sebelah timur muka bumi." Imam Al-Masudi berkata: "Mereka tinggal di bandar terpencil di sebelah timur jauh diantara sempadan negara China dan di hujung Mongolia. Di situ Iskandar Zulkarnain telah membina sebuah tembok yang besar bagi menyekat Yakjuj dan Makjuj daripada keluar ke muka bumi untuk membuat kerosakan." Tantawi Jauhari berkata: "Di dalam risalah-risalah terdahulu yang dikarang sekitar kurun ke 3 dan ke 4 telah menjelaskan bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah penduduk yang berada di sudut yang maju di utara China. Dihadkan negara mereka sekitar 27 darjah ke utara hingga 50 darjah. Negara ini sekarang merupakan bahagian yang besar di China dan ianya (lokasinya) sekarang merupakan ibu negaranya iaitu Beijing."

DI MANAKAH TEMBOK ZULKARNAIN?

Persoalan ini pun telah mendapat perhatian dari para sarjana Islam. Ramai yang telah mengkajinya dengan terperinci. Malah ada ekspedisi-ekspedisi silam yang telah dilakukan untuk mencari di mana letaknya tembok tersebut. Untuk mengelakkan dari menulis terlalu panjang, saya ringkaskan di sini bahawa setakat ini seolah-olah terdapat satu persetujuan bahawa lokasi Tembok Zulkarnain sudah ditemui. Saya telah melakukan carian demi carian untuk mendapatkan foto Tembok Zulkarnain tetapi masih gagal. Namun begitu, dalam artikel ini saya paparkan kawasan lokasi Tembok Zulkarnain untuk kita sama-sama renungkan.

Kawasan yang dipercayai terletaknya tembok Zulkarnain berada di Utara Georgia, selatan Rusia, iaitu di banjaran Gunung Caucasus (bahagian tengah Greater Caucasus Mountains), iaitu di kaki Gunung Kazbek. Kawasan ini dikenali sebagai Lorong Dariel atau Daryal (Dariel Pass, ketinggiannya ialah 3,950 kaki atau 1,204 meter dari aras laut). Kedudukannya berhampiran dengan Sungai Terek. Terdapat satu jalan tentera Georgia yang merentasi lorong ini (ini baru saja dibina oleh Rusia tahun 1850'an) dan sejak zaman silam ianya terkenal sebagai lorong yang dilalui untuk tujuan menjajah. Pada zaman silam, Lorong Dariel ini juga dikenali sebagai Gerbang Alan, atau Gerbang Caucasia, atau Gerbang Iberia.

Al-Marhum Abul Kalam Azad pun menyatakan begitu. Beliau mengakui bahawa di Georgia terdapat satu timbunan besar tembok yang dibuat daripada besi bercampur tembaga di Bukit Qawqaz (Caucasian Mountain) di suatu kawasan yang sempit iaitu antara dua bukit Darial (Dariel). Keadaan bukit itu curam memanjang dari Laut Hitam hingga Laut Qazwain. Ianya menghubungkan antara dua laut ini. Panjangnya 1,200 kilometer. Bukit Darial ini secara umumnya masih tidak terusik, masih teguh, mempunyai bentuk berlapis-lapis. Di sana ada suatu timbunan yang tinggi daripada besi tulen bercampur tembaga tulen di Tembok Darial. Ia adalah merupakan suatu hasil kerja menyumbat satu lubang yang ada di situ. Penduduk-penduduk tempatan takut untuk mengusik atau mengubahnya. Hanya perubahan semulajadi saja yang berlaku di situ. Terdapat proses penerokaan tanah berlaku di sebelah-menyebelah tembok itu, tapi tidak menjejaskan tembok itu sendiri. Ini menyebabkan wujudnya ruang-ruang kosong antara batu-batu bukit dan Tembok Zulkarnain, yang masih kukuh hingga sekarang. Nampaknya manusia di atas muka bumi pun tidak mampu untuk melubanginya mahupun mendakinya.

Banjaran Gunung Caucasia merupakan satu rekahan (fracture, sebagaimana "geological fault-line"), dan ia adalah pembahagi bukan saja dari sudut geografi dan budaya etnik, malah juga dari sudut geopolitik. Terdapatnya kaum yang ganas dan membuat kerosakan (bangsa Monggol) di sebelah utara menyebabkan Tembok Besar China telah dibina, begitu juga Tembok Hadrian (Roman Limes). Ada yang berpendapat bahawa Gerbang Caucasia dibina untuk melindungi Timur Tengah (dari kaum nomad bangsa Eurasia).

Gerbang Caucasia juga sering disebut sebagai "Pillars, Stronghold" atau "Iron Gate of Alexander The Great" oleh penulis-penulis klasik. Barat juga menganggap bahawa Tembok Zulkarnain (Gerbang Caucasia) ini dibina untuk mengepung Gog dan Magog dari melakukan keganasan dan kerosakan yang lebih banyak. Pada hari ini, lambang Georgia (matahari, bulan dan lima bintang) kononnya adalah sempena lambang Iskandar (Zulkarnain).

Kawasan pergunungan Caucasus ini agak unik. Di sini terdapat 62 bahasa yang dituturkan oleh 5 keluarga besar, budayanya juga berbagai. Kawasan ini juga terkenal sebagai kawasan yang selalu berlaku peperangan antara kaum, pertumpahan darah dan peperangan kolonial sejak zaman berzaman. Lorong Dariel (tempat Tembok Zulkarnain) berada di kaki Gunung Kazbek (5033m/16,800') dan Elbrus (5642m/18,800'). Kedua-dua gunung ini adalah gunung berapi yang aktif tapi sudah tidak meletup sejak 500 tahun lampau, menyebabkan penduduk tempatan menganggap ianya gunung berapi yang sudah mati.

Saya telah membuat beberapa siri carian di Internet, dan telah terjumpa antara bukti-bukti bahawa penduduk silam di kawasan ini mempunyai teknologi yang tinggi. Di kawasan Caucasia ini banyak ditemui batu-batu besar yang disusun (megaliths) yang dipercayai merupakan kepuk kubur (dolmens). Batu-batu ini telah dipotong rapi (high-precision) dan di batu tengahnya telah ditebuk satu lubang bulat. Kehalusan ukiran pada batu adalah amat tinggi, dianggap sehalus kemahiran pengukir permata (jeweller).

KESIMPULAN

Pada hemat saya kaum Yakjuj dan Makjuj ini mempunyai teknologi yang tinggi (mungkin yang diwarisi dari kaum yang telah musnah ketika taufan Nuh a.s.) dan masih membangunkan teknologinya hingga saat ini. Mengenai siapakah mereka ini sebenarnya, sama ada Mongol atau Tartar atau dari keturunan Yahudi adalah pendapat-pendapat yang hingga kini belum dapat disahkan. Mengenai di manakah Yakjuj dan Makjuj sekarang ini, saya berpendapat bahawa mereka ini terkepung di bawah bumi, bukan di atas bumi dan bukan pula di dimensi yang lain. Bolehlah diputuskan bahawa mereka ini adalah anak-anak Adam dan ciri-ciri mereka adalah sebagaimana manusia di atas muka bumi juga. Para sarjana Islam telah menolak kemungkinan bahawa mereka ini berupa seperti binatang atau berbentuk ganjil dan hodoh.

Satu perkara yang elok dicatat ialah ada sarjana berpendapat bahawa pada akhir zaman nanti kaum Yakjuj dan Makjuj ini keluar dari banyak tempat, bukan hanya dari Tembok Zulkarnain yang telah ditebuk. Keadaan mereka keluar itu ialah secara pantas, berpusu-pusu atau berlumba-lumba, iaitu suatu keadaan keluar dari tempat yang sempit. Saya berpendapat bahawa pada akhir zaman mereka ini akan meluru keluar dari tempat yang tinggi mungkin bermaksud bahawa mereka keluar dari kawasan pergunungan, bukan saja dari pergunungan Caucasus (Tembok Zulkarnain) tapi kawasan-kawasan tinggi yang lain seperti Himalaya. Kemungkinan mereka juga menebuk bekas kawah gunung berapi yang telah mati juga tidak mustahil. Apa pun, ini hanyalah pendapat saya yang serba tidak tahu. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui bagaimanakah keadaan Yakjuj Makjuj kini dan ketika ia keluar nanti.

Berita kaum Yakjuj dan Makjuj dan berita Zulkarnain wajib dipercayai oleh seluruh umat Islam kerana ianya secara jelas termaktub dalam Al-Qur'an. Kerana itu jugalah ulama Islam bukan saja telah meneliti berbagai sumber hadis, malah telah menghujahkan pendapat mereka dengan panjang lebar. Kajian demi kajian yang telah dilakukan sebelumnya telah dikaji semula oleh sarjana yang kemudian dengan teliti sekali. Begitulah sikap pengkaji Muslim sejak dari zaman kegemilangan Islam lagi. Sepatutnya sikap ini dapat diteruskan oleh sarjana Muslim zaman ini dan seterusnya zaman berzaman. Walaupun identiti Zulkarnain dan juga identiti Yakjuj dan Makjuj belum lagi bertemu kata putus, sebenarnya usaha-usaha para pengkaji mempunyai hikmah yang amat besar. Mereka telah menyingkap kembali sejarah kegemilangan banyak empayar silam dan ini telah didokumenkan untuk tatapan generasi kemudian. Pada hemat saya, kisah Yakjuj Makjuj dan Zulkarnain dalam Al-Qur'an adalah salah satu dari mukjizat Al-Qur'an itu sendiri. Ianya satu berita misteri besar yang mendorong banyak pengkaji untuk melakukan kajian demi kajian, secara berterusan zaman-berzaman selagi jawapan yang pasti belum ditemui. Umat Islam perlu memperhatikan, menyelidik dan mengkaji untuk menjadi umat yang hebat dan kaya dengan ilmu pengetahuan. Dan jangan lupa, itu semua pun adalah atas rahmat Allah Yang Maha Bijaksana.

Semoga Allah menambahkan ilmuNya kepada kita semua. InsyaAllah.

Wallahua'lam.

Sabtu, 31 Juli 2010

Nasehat Untuk Remaja

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa
ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam
bersabda : “Tidak boleh seorang laki-laki bersama
seorang perempuan kecuali si perempuan tersebut
bersama mahramya. Dan seorang perempuan tidak
boleh bepergian kecuali bersama dengan
mahramnya. Kemudian seseorang bertanya kepada
beliau : “Wahai Rasulullah, isteriku akan pergi haji
sedang aku telah mendaftarkan diri untuk perang ini
dan itu?” Beliau menjawab : “Pergilah dan
berjihadlah bersama isterimu.” (Muttafaqun alaih).

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, lakilaki
dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya,
laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan
perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan
yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang
berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah,
Allah telah menjadikan untuk mereka ampunan dan
pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35).

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada
Allah, niscaya Allah menjadikan baginya
kemudahan dalam urusannya.” (At-thalaq : 4).

“Orang mu’min yang paling sempurna
imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan
orang yang paling baik diantara kalian adalah yang
paling baik terhadap para isterinya.” (Riwayat
Turmizi, dan katanya : hadits hasan shahih).

“Kalian adalah ummat terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyeru (mereka) kepada
yang ma’ruf dan mencegah (mereka) dari yang
mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali-Imran :
110).

“Agama itu adalah nasehat. “Kami bertanya :
“untuk siapa? “Beliau menjawab: “untuk Allah,
kitabNya, RasulNya, para imam orang-orang Islam,
dan untuk orang-orang awam mereka.” (riwayat
muslim).

“Dan (ingatlah) ketika Luqman kerkata
kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran
kepadanya ; ‘Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar suatu
kezaliman yang besar.” (Luqmam:31).

Sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam dari Amru bin Syuaib
dari bapaknya dari neneknya berkata : Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Perintahlah
anak-anakmu shalat pada umur ketujuh, dan pukul
mereka (jika tidak mengerjakannya) pada umur
kesepuluh dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”
(riwayat Abu Daud dengan sanad hasan).

Adakah bapak ibu telah mendidik para puteri
sejak kecil untuk mempunyai rasa malu, menutup
badan dan terbiasa memakai hijab syar’i secara
sempurna, terutama wajah mereka, dan
menjauhkan diri dari pergaulan kaum lelaki?

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
adalah maalikat-malaikat yang kasar, keras dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkanNya kepada mereka, dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-tahrim:
6).

“Wahai seluruh kaum remaja, barangsiapa
diantara kamu telah mempunyai kemampuan maka
kawinlah, karena hal itu lebih membantu menahan
pandangan mata dan menjaga kelamin. Dan barang
siapa belum mampu, hendaknya berpuasa, karena
itu merupakan obat baginya.” (muttafaq alaih).

Ad-diin

A. PENGERTIAN Ad-diin

Diin secara lughoh adalah:


1. Ketaatan dan Ketundukan kepada hukum yang mutlak (Qs. 16:52, 40:65, 3:83)
2. Dienul Malik (Aturan/ UUD Kerajaan ) (Qs. 12:76)
3. Tanggungjawab/ Pembalasan (Qs. 1:4)

Sedangkan Diin menurut syara’ adalah: Read More...
Ummatan Wasathan
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu...( QS. 2 : 143 )
Kalimat thoyyibah " Laa ilaha illallah " para ulama mengatakan ada dua kandungan rukun, yaitu An-Nafyu (penafian) dan Al-itsbat (penetapan). Seorang muslim yang mereflesikan kalimat tauhid pasti menafikan segala yang disembah selain Ilahul Haq dan menetapkan hanya Allah saja yang berhak untuk disembah. Karena hanya Allah yang Haq, yang lain adalah Bathil. Itulah makna hakiki dari tauhid. Tetapi tauhid kita tidak hanya berhenti sampai disitu. Sebagai Khalifah, kita tidak boleh berhenti sekedar menafikan system barat ( Sekuler ), peradaban barat, budaya, gaya hidup dan seterusnya. . Read More...
Pengorbanan
Wahai mereka yang telah ridla Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai Diennya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Ketahuil, bahwasanya Allah telah menurunkan ayat dalam surat al-baqarah :

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepada kamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya : "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al Baqarah : 214) . Read More...


Makna Ad - Dien
Posted: 30 Jul 2010 02:40 AM PDT
A. PENGERTIAN “AD DIIN”

Diin secara lughoh adalah:

1. Ketaatan dan Ketundukan kepada hukum yang mutlak (Qs. 16:52, 40:65, 3:83)
2. Dienul Malik (Aturan/ UUD Kerajaan ) (Qs. 12:76)
3. Tanggungjawab/ Pembalasan (Qs. 1:4)

Sedangkan Diin menurut syara’ adalah:
لدِّينُ هُوَ مَا شَرَعَهُ اللَّه ُبِتَوْصِيَةِ رُسُْلِهِ وَ هُوَ فِطْرَتِهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لِسَلامَتِهِمْ فِى الدُنْيَا وَالاخِرَةِ بِرِضَاهِ
“Ad Dien adalah apa-apa yang disyari’atkan Allah SWT dengan taushiyah para rasul-Nya dan Dia adalah Fitrohnya yang telah menciptakan manusia dengannya untuk keselamatan mereka di dunia dan di akhirat dengan ridhonya”. Pahami Qs. 42:13, 30:30, 26:21, 49:16, 3:19

B. UNSUR-UNSUR “AD DIIN”

Unsur-unsur Ad Dien ada 3:

1. Hukum, sebagai wujud kongkrit dari eksistensinya “Rububiyyah Alloh” di alam semesta ini
2. Daar (Negeri), sbgai wujud kongkrit dari eksistensinya “Mulkiyyah Alloh” di kerajaan bumi ini
3. Jama’ah/ Ummat, sebagai wujud kongkrit dari eksistensinya “Uluhiyyah Alloh” dengan hanya memurnikan pengabdian kepada Alloh semata.

C. KLASIFIKASI “AD DIIN”

Klasifikasi Diin terbagi menjadi 2 yakni:

1) Dinul Haq

هُوَ مَا شَرَعَهُ اللَّهُ بِقُرْآنِهِ لِسَلامَةِ الانْسَانِ عَلَى الْفِطْرَةِ وَ اْلاسْلامُ دِيْنُ التَّوْحِيْدِ

“Sesuatu yang di syari’atkan Allah dengan Qurannya untuk keselamatan manusia atas fitrohnya, dan Islam adalah Diin Tauhid”.

2) Dinul Bathil

هُوَ مَا شَرَعَهُ الْمُشْرِكُوْنَ بِاَمَانِيِّهِمْ لِشَقَاوَةِ اْلانْسَانِ عَنِ الْفِطْرَةِ وَ غَيْرُ اْلاسْلامُ دِيْنُ التَّوْحِيْدِ

“Sesuatu yang di syari’atkan orang musyrik dengan angan-angannya untuk merusak manusia dari fitrohnya, dan Diin bukan Islam adalah Dien Syirik.

Alloh SWT. telah mensyari’atkan sejak Nabi Nuh, Nabi Ibrohim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad SAW hingga sampai saat ini yakni Penegakkan Dinul Islam dan Jangan Berpecah Belah.

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang diin apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah Diin dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. 42:13)

nilah wasilah (sarana/ cara) untuk bertakwa kepada Alloh dan mendekatkan diri kepada-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. 5:35)

D. SIKAP KITA TERHADAP DINUL HAQ (ISLAM)

1. Mengizharkannya diatas yang lain (9:33, 48:28, 61:10)

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”. (QS. 9:33)

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. 48:28)

2. Menegakkannya (QS. 42:13)

E. KAIFIYAT IQOMATUD DIIN DAN IZHARUD DIIN

Setelah memahami ma’rifatulloh maka akhirnya kita telah mengetahui syari’at Alloh. Unsur-unsur syari’at tersebut adalah Rububiyyah, Mulkiyyah dan Uluhiyyah.

1) Rububiyyah

Untuk mewujudkan eksistensi Rububiyyah Alloh di alam semesta ini maka yang harus dilakukan adalah TABLIGH yaitu Usaha menunjukkan jalan (5:67) = سَعْيٌ لِهِدَايَةِ الصِّرَاطِ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. 5:67)

Tabligh ini bisa berupa kabar gembira (tabsyir) dan berupa peringatan (indzar). Tabsyir ini bisa melalui proses ta’lim (keilmuan), sedangkan indzar bisa melalui proses tahkim (pemberian sangsi hukum). Inilah sarana (shirot) untuk menuju petunjuk (Shirotol mustaqim) yang baik (ma’ruf), perintah Alloh (amru) untuk dilaksanakan (imtitsal) melalui perbuatan (fi’lun) yang kokoh/ teguh (itsbat). Jangan sampai kita menuju Shirotol jahim yang rusak (munkar), dilarang Alloh (Nahyu) dan harus menjauhinya (Ijtinabu) dengan cara meninggalkannya (tarku). Inilah yang harus senantiasa disampaikan dan aplikasikan oleh seorang MUBALLIGH.


2) Mulkiyyah

Untuk mewujudkan eksistensi Mulkiyyah Alloh di kerajaan bumi ini maka yang harus ditempuh adalah JIHAD sebagai Gerakan mengamankan jalan (9:122, 8:74) = ضَرْبٌ لِحِمَايَةِ السَّبِيْلِ

“tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. 9:122)

“dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia”. (QS. 8:74)

JIHAD ini bisa berupa seruan (dakwah, 9:122) dan tempur/ perang (qital, 8:74). Dakwah ini berupa proses pemahaman Diin (tafaqqoh) yang berupa keilmuan. Sedangkan Qital berupa mobilisasi (nufur) yang berupa perbuatan yakni penggalangan kekuatan. Inilah sarana/ wadah (Sabilillah) menuju mardhotillah yang ma’ruf, perintah Alloh (amru) untuk dilaksanakan (imtitsal) melalui perbuatan (fi’lun) yang kokoh/ teguh (itsbat). Jangan sampai kita menuju sabilith thoghut yang rusak (munkar), dilarang Alloh (Nahyu) dan harus menjauhinya (Ijtinabu) dengan cara meninggalkannya (tarku). Inilah yang harus senantiasa disampaikan dan aplikasikan oleh seorang MUJAHID.

3) Uluhiyyah

Untuk mewujudkan eksistensi Uluhiyyah Alloh sebagai satu-satunya pengabdian maka yang harus ditempuh adalah TAUHID sebagai Pengayoman untuk membina jalan (98:5) = رَاْيٌ لِبِنَايَةِ الطَّرِيْقِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”. (QS. 98:5)

Tauhid ini ditujukan kepada Ummat dan Jama’ah. Tauhid yang dimiliki ummat yakni dengan memurnikan (ikhlash) pengabdiannya hanya kepada Alloh melalui pemahan keilmuan. Adapun tauhid yang dimiliki jama’ah (institusi) dengan adanya kepemimpinan (Imamah) sehingga hukum Alloh (Al Quran) sebagai sumber hukum dapat diaplikasikan melalui ketetapan-ketetapan Imam. Inilah sarana menuju “jannah” (Thoriqul Jannah) yang ma’ruf, perintah Alloh (amru) untuk dilaksanakan (imtitsal) melalui perbuatan (fi’lun) yang kokoh/ teguh (itsbat). Jangan sampai kita menuju Thoriqul Jahannam yang rusak (munkar), dilarang Alloh (Nahyu) dan harus menjauhinya (Ijtinabu) dengan cara meninggalkannya (tarku). Inilah yang harus senantiasa disampaikan dan aplikasikan oleh seorang MUWAHHID.

Wallohu a’lam bish showab

Abqtl/Iqraku

Rabu, 28 Juli 2010

Misteri Yakjuj & Makjuj

Misteri: Yakjuj, Makjuj dikurung dalam tembok ajaibOleh Nasron Sira Rahim DI sebalik pembinaan kota besar hasil kemajuan pembangunan dan kemodenan yang melanda hampir seluruh pelusuk dunia hari ini, masih terdapat satu kawasan rahsia di muka bumi ini yang menyimpan ribuan makhluk misteri. Sehingga kini, penerokaan demi penerokaan di seluruh kawasan bumi masih belum menemui wilayah asing itu sekali gus menyebabkan kewujudan makhluk terbabit tidak akan dikenal pasti pengkaji atau manusia umumnya. Bagaimanapun, kewujudan makhluk itu adalah sahih dan suatu hari nanti, mereka akan muncul juga di hadapan manusia. Akan tetapi, ketika makhluk itu muncul, sudah terlambat untuk manusia berbuat apa-apa lagi. Tiada lagi kajian mengenai sejarah kewujudan atau penyelidikan sains dilakukan terhadap makhluk itu seperti penemuan artifak atau spesies baru ketika ini kerana sewaktu munculnya makhluk dikenali Yakjuj dan Makjuj itu, dunia sudah terlalu hampir dengan kiamat! Sejak dikurung ribuan tahun lalu, kewujudan dan lokasi ‘pusat tahanan’ Yakjuj dan Makjuj masih menjadi misteri kepada manusia. Bagaimanapun, kewujudan dua makhluk itu adalah pasti lantaran ia dinyatakan dalam al-Quran serta tergolong dalam perkara ghaib yang wajib diimani manusia menerusi tanda besar berlakunya kiamat. Pensyarah Jabatan Al-Quran dan Al-Hadith, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (API-UM), Prof Madya Dr Fauzi Deraman, berkata Yakjuj dan Makjuj bukanlah berupa haiwan atau spesies lain sebaliknya ia adalah manusia yang berasal daripada keturunan Nabi Adam AS. Katanya, mengikut hadis, bangsa Yakjuj dan Makjuj berasal daripada keturunan anak lelaki Nabi Nuh AS iaitu Yafis yang berkembang melewati masa sehinggalah Zulkarnain membina tembok bagi menghalang mereka keluar dari lokasi mereka. “Cerita mengenai sejarah Yakjuj dan Makjuj tertera dalam al-Quran menerusi surah al-Kahfi, ayat ke-92 hingga 98 manakala kebangkitan mereka dinyatakan dalam surah an-Anbiyaa’, ayat ke-96 dan 97,” katanya. Allah berfirman menerusi ayat surah al-Kahfi itu: “Kemudian dia (Zulkarnain) menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia sampai antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. “Mereka berkata: ‘Hai Zulkarnain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang yang membuat kerosakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara mereka?’. “Zulkarnain berkata: ‘Apa yang dikuasakan Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan peralatan), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi’. “Hingga apabila besi itu sudah sama rata dengan kedua-dua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: ‘Tiuplah (api itu)’. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu. “Maka mereka tidak dapat mendakinya dan mereka tidak dapat melubanginya. Zulkarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat daripada Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku (kiamat), Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Tuhanku itu adalah benar’.” Dalam ayat surah an-Anbiyaa’ pula, Allah berfirman: “Hingga apabila dibukakan (tembok) Yakjuj dan Makjuj; dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan sudah dekatlah kedatangan janji yang benar (kaimat) maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.” Dr Fauzi berkata, selain dua surah al-Quran itu, terdapat banyak hadis kuat yang membicarakan mengenai Yakjuj dan Makjuj tetapi terdapat juga perbezaan pendapat di kalangan ulama mengenai ciri-ciri bangsa itu yang tidak diterangkan nas. “Hadis riwayat Imam Ahmad pula menerangkan ciri fizikal Yakjuj dan Makjuj yang antara lain bermuka bulat dan kulit kekuningan seperti wajah kebanyakan penduduk Asia Tengah. “Ulama juga cenderung mengatakan Yakjuj dan Makjuj berasal dan dikurung di benua Asia Tengah berdasarkan tafsiran ayat ke-90 dari surah al-Khafi yang menyebut Zulkarnain sampai ‘di tempat terbit matahari’ iaitu timur dunia,” katanya. Pendapat lain menambah yang Yakjuj dan Makjuj berkemungkinan berasal daripada bangsa Tartar dan Mongul manakala lokasi tahanan mereka adalah kawasan pergunungan luas Caucasus. Beliau berkata, kebanyakan ulama menyatakan yang bangsa itu terus wujud sehingga kini tetapi dipisahkan daripada dunia manusia oleh Allah SWT menerusi tembok dibina Zulkarnain itu. Katanya, tugas bangsa itu setiap hari sejak ribuan tahun lalu adalah mengorek tembok itu untuk tembus ke dunia manusia tetapi Allah masih menghalang mereka dengan kembali meneguhkan benteng berkenaan sehinggalah hampirnya hari kiamat. “Allah akan mengizinkan tembok itu runtuh dan Yakjuj dan Makjuj bebas ke dunia manusia apabila hampirnya kiamat dan peristiwa itu menjadi satu daripada 10 tanda besar kiamat,” katanya. Yakjuj dan Makjuj juga muncul selepas kematian Dajal yang dibunuh Nabi Isa AS dan bangsa itu akan mendatangkan kerosakan besar di muka bumi. Kekuatan mereka dikatakan luar biasa dan terlalu hebat sehingga tiada sesiapa yang mampu menewaskan kumpulan itu. “Nabi Isa AS memerintahkan manusia yang masih beriman berlindung di pergunungan bagi mengelak menjadi mangsa Yakjuj dan Makjuj; baginda kemudian berdoa kepada Allah SWT dan Allah membinasakan mereka dengan mengutuskan ulat yang menyerang belakang badan golongan itu sehingga mati. “Selepas bangsa Yakjuj dan Makjuj mati serta menjadi busuk, Allah mengutuskan seekor burung besar untuk mengangkut dan membersihkan mayat itu dari bumi,” katanya. Menyoroti dalil kewujudan Yakjuj dan Makjuj, manusia seharusnya yakin mempertahankan akidah Islam dan tidak bertangguh memohon keampunan dan keredaan Allah kerana mereka yang masih lalai adalah golongan yang diterangkan dalam surah an-Anbiyaa’ di atas seperti firman-Nya: “(Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.” FAKTA Yakjuj dan Makjuj Ketika kemunculannya, mereka dikatakan akan menuju ke sebuah tasik di Palestin dan akan minum air tasik itu sehingga kering. Memiliki zuriat yang ramai dan dikatakan tidak akan mati sehingga melahirkan lebih 1,000 zuriat. Tiada siapa mampu menewaskan mereka dan hanya binasa dengan kekuasaan Allah. Muncul selepas turunnya Nabi Isa AS dan Dajal. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan kebimbangannya apabila pada zaman baginda, Yakjuj dan Makjuj dikatakan sudah berjaya menebuk benteng Zulkarnain sebesar bulatan dibentuk ibu jari dan jari telunjuk.

Misteri: Yakjuj, Makjuj dikurung dalam tembok ajaibOleh Nasron Sira Rahim DI sebalik pembinaan kota besar hasil kemajuan pembangunan dan kemodenan yang melanda hampir seluruh pelusuk dunia hari ini, masih terdapat satu kawasan rahsia di muka bumi ini yang menyimpan ribuan makhluk misteri. Sehingga kini, penerokaan demi penerokaan di seluruh kawasan bumi masih belum menemui wilayah asing itu sekali gus menyebabkan kewujudan makhluk terbabit tidak akan dikenal pasti pengkaji atau manusia umumnya. Bagaimanapun, kewujudan makhluk itu adalah sahih dan suatu hari nanti, mereka akan muncul juga di hadapan manusia. Akan tetapi, ketika makhluk itu muncul, sudah terlambat untuk manusia berbuat apa-apa lagi. Tiada lagi kajian mengenai sejarah kewujudan atau penyelidikan sains dilakukan terhadap makhluk itu seperti penemuan artifak atau spesies baru ketika ini kerana sewaktu munculnya makhluk dikenali Yakjuj dan Makjuj itu, dunia sudah terlalu hampir dengan kiamat! Sejak dikurung ribuan tahun lalu, kewujudan dan lokasi ‘pusat tahanan’ Yakjuj dan Makjuj masih menjadi misteri kepada manusia. Bagaimanapun, kewujudan dua makhluk itu adalah pasti lantaran ia dinyatakan dalam al-Quran serta tergolong dalam perkara ghaib yang wajib diimani manusia menerusi tanda besar berlakunya kiamat. Pensyarah Jabatan Al-Quran dan Al-Hadith, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (API-UM), Prof Madya Dr Fauzi Deraman, berkata Yakjuj dan Makjuj bukanlah berupa haiwan atau spesies lain sebaliknya ia adalah manusia yang berasal daripada keturunan Nabi Adam AS. Katanya, mengikut hadis, bangsa Yakjuj dan Makjuj berasal daripada keturunan anak lelaki Nabi Nuh AS iaitu Yafis yang berkembang melewati masa sehinggalah Zulkarnain membina tembok bagi menghalang mereka keluar dari lokasi mereka. “Cerita mengenai sejarah Yakjuj dan Makjuj tertera dalam al-Quran menerusi surah al-Kahfi, ayat ke-92 hingga 98 manakala kebangkitan mereka dinyatakan dalam surah an-Anbiyaa’, ayat ke-96 dan 97,” katanya. Allah berfirman menerusi ayat surah al-Kahfi itu: “Kemudian dia (Zulkarnain) menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia sampai antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. “Mereka berkata: ‘Hai Zulkarnain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang yang membuat kerosakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara mereka?’. “Zulkarnain berkata: ‘Apa yang dikuasakan Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan peralatan), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi’. “Hingga apabila besi itu sudah sama rata dengan kedua-dua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: ‘Tiuplah (api itu)’. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu. “Maka mereka tidak dapat mendakinya dan mereka tidak dapat melubanginya. Zulkarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat daripada Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku (kiamat), Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Tuhanku itu adalah benar’.” Dalam ayat surah an-Anbiyaa’ pula, Allah berfirman: “Hingga apabila dibukakan (tembok) Yakjuj dan Makjuj; dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan sudah dekatlah kedatangan janji yang benar (kaimat) maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.” Dr Fauzi berkata, selain dua surah al-Quran itu, terdapat banyak hadis kuat yang membicarakan mengenai Yakjuj dan Makjuj tetapi terdapat juga perbezaan pendapat di kalangan ulama mengenai ciri-ciri bangsa itu yang tidak diterangkan nas. “Hadis riwayat Imam Ahmad pula menerangkan ciri fizikal Yakjuj dan Makjuj yang antara lain bermuka bulat dan kulit kekuningan seperti wajah kebanyakan penduduk Asia Tengah. “Ulama juga cenderung mengatakan Yakjuj dan Makjuj berasal dan dikurung di benua Asia Tengah berdasarkan tafsiran ayat ke-90 dari surah al-Khafi yang menyebut Zulkarnain sampai ‘di tempat terbit matahari’ iaitu timur dunia,” katanya. Pendapat lain menambah yang Yakjuj dan Makjuj berkemungkinan berasal daripada bangsa Tartar dan Mongul manakala lokasi tahanan mereka adalah kawasan pergunungan luas Caucasus. Beliau berkata, kebanyakan ulama menyatakan yang bangsa itu terus wujud sehingga kini tetapi dipisahkan daripada dunia manusia oleh Allah SWT menerusi tembok dibina Zulkarnain itu. Katanya, tugas bangsa itu setiap hari sejak ribuan tahun lalu adalah mengorek tembok itu untuk tembus ke dunia manusia tetapi Allah masih menghalang mereka dengan kembali meneguhkan benteng berkenaan sehinggalah hampirnya hari kiamat. “Allah akan mengizinkan tembok itu runtuh dan Yakjuj dan Makjuj bebas ke dunia manusia apabila hampirnya kiamat dan peristiwa itu menjadi satu daripada 10 tanda besar kiamat,” katanya. Yakjuj dan Makjuj juga muncul selepas kematian Dajal yang dibunuh Nabi Isa AS dan bangsa itu akan mendatangkan kerosakan besar di muka bumi. Kekuatan mereka dikatakan luar biasa dan terlalu hebat sehingga tiada sesiapa yang mampu menewaskan kumpulan itu. “Nabi Isa AS memerintahkan manusia yang masih beriman berlindung di pergunungan bagi mengelak menjadi mangsa Yakjuj dan Makjuj; baginda kemudian berdoa kepada Allah SWT dan Allah membinasakan mereka dengan mengutuskan ulat yang menyerang belakang badan golongan itu sehingga mati. “Selepas bangsa Yakjuj dan Makjuj mati serta menjadi busuk, Allah mengutuskan seekor burung besar untuk mengangkut dan membersihkan mayat itu dari bumi,” katanya. Menyoroti dalil kewujudan Yakjuj dan Makjuj, manusia seharusnya yakin mempertahankan akidah Islam dan tidak bertangguh memohon keampunan dan keredaan Allah kerana mereka yang masih lalai adalah golongan yang diterangkan dalam surah an-Anbiyaa’ di atas seperti firman-Nya: “(Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.” FAKTA Yakjuj dan Makjuj Ketika kemunculannya, mereka dikatakan akan menuju ke sebuah tasik di Palestin dan akan minum air tasik itu sehingga kering. Memiliki zuriat yang ramai dan dikatakan tidak akan mati sehingga melahirkan lebih 1,000 zuriat. Tiada siapa mampu menewaskan mereka dan hanya binasa dengan kekuasaan Allah. Muncul selepas turunnya Nabi Isa AS dan Dajal. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan kebimbangannya apabila pada zaman baginda, Yakjuj dan Makjuj dikatakan sudah berjaya menebuk benteng Zulkarnain sebesar bulatan dibentuk ibu jari dan jari telunjuk.










Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

“Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”.” (QS. Al-Kahfi: 94)

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Anbiya: 96)

Ya-juj dan Ma-juj dalam Hadits Dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini!” Beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Jenis dan Asal Usul Ya-juj dan Ma-juj

Berdasarkan pendapat yang paling kuat, Ya-juj dan Ma-juj merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia. Hanya saja, para ulama berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam ‘alaihis salam dan Hawa atau dari Adam saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh ‘alaihis salam dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh mempunyai tiga anak, Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts bin Nuh.

Menurut Al-Maraghi, Ya-juj dan Ma-juj berasal dari satu ayah yaitu Turk. Ya-juj adalah At-Tatar (Tartar) dan Ma-juj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin. Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. “Batu” anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina.

Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H.

Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang banyak keturunannya. Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar.

Pada QS. Al-Kahfi:94, Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang kasar dan biadab. Jika mereka melewati perkampungan, membabat semua yang menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduk. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.

Siapakah Dzulkarnain?

Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir.

Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan Al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” (QS. Al-Kahfi: 84)

Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M.). Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.

Dzulqarnain seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan, atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.

Benarkah Tembok Cina Adalah Tembok Zulkarnain?

Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al-Kahfi. Dan yang disebut Ya-juj dan Ma-juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.
Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.

Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dan seterusnya, sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al-Kahfi: 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman, “Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

Beberapa Penelitian Tembok Ya’juj

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al-hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.

Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 meter dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.



Letak Perkiraan Tembok Besi Berada

Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di pegunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam maupun Rusia, terletak di republik Georgia.

Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.
Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu Sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.

Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.

27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj dan Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.

Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma-juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya-juj-Ma-juj itu.

Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, dan membunuh suku-suku lain. Mereka pembuat onar dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.

Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya-juj-Ma-juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.

Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah, pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.

Ditulis oleh: Damar Dwiyadi Pratama

Senin, 26 Juli 2010

ARRAHMAN

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan” Arrahman (55) ayat 13,16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 75, 77)

Allah menyebut kalimat tersebut dalam surat Arrahman sebanyak 30 kali. Dalam ayat-ayat tersebut tersirat bahwa begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia tapi sedikit sekali manusia mensyukuri apa yang Allah berikan, bahkan manusia senantiasa mengingkari dan mendustakan apa yang telah Allah berikan dan mengkalim bahwa karena dirinyalah dia sukses. Sebagai contoh Allah menerangkan kisah Qorun yang kikir dan sombong dalam Al-Qur’an:

“Dia Qorun berkata, “Sesunguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku…..”

(Al Qashash: 78)

Sungguh Qorun adalah manusia yang kikir dan sombong dia merasa bahwa karena ilmunyalah dia bisa menjadi orang kaya, padahal kalau kita berfikir mana mungkin kita bisa sukses tanpa ada campur tangan dari Allah SWT. Apakah kita bisa melihat kalau kenikmatan melihat itu dicabut oleh Allah SWT dan apakah kita bisa berjalan kalau kaki kita tiba-tiba dilumpuhkan oleh sang pemilik kaki itu sendiri. Semuanya adalah milik Allah dan manusia tak memiliki apapun karena semuanya adalah pinjaman yang Allah percayakan kepada kita, bagaimana jika Allah tak mempercayai kita lagi? Apa yang akan kita lakukan di dunia ini.

“Apakah kamu merasa akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggung jawaban”

Ayat diatas mengatakan bahwa Allah menciptakan kita dengan sebuah tujuan, bukan untuk berdiam diri saja dan tidak berusaha sedikitpun, bukan pula sibuk dengan rutinitas kerja hingga kita terlupa akan Allah, tapi Allah menyuruh kita untuk berusaha dan tetap mengingat Allah secara balance, karena segala sesuatunya akan dipertanggung jawabkan, anak-anak kita, harta-harta kita dan apapun yang kita cintai.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka itulah orang-orang yang rugi”. (Qs. Al-Munafiqun [63]: 9)

Seberapa besar kecintaan kita kepada harta, anak, tahta atau lawan jenis kita, tak seharusnya melebihi cinta kita kepada Allah, karena semua itu adalah ujian. Barang siapa yang mampu bersyukur dan bersabar, maka merekalah yang niscaya termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung. Namun barang siapa yang kufur serta selalu mengikuti nafsu dan emosi semata, maka niscaya merekalah yang berada dalam kumpulan orang-orang yang merugi.

Maka dengan adanya ujian melalui nikmat harta, nikmat keluarga, musibah dan kedukaan yang kita alami, sudah sepatutnya manusia bersyukur dengan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah dengan menjaga amanatnya sebagai sebuah tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, karena apabila kita lulus ujian maka Allah akan meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaan kita.

“Jika kalian bersyukur, pasti Aku (Allah) akan tambah (kenikmatan) untuk kalian, dan jika kalian ingkar, sesunggahnya adzab-Ku sangatlah pedih.” (Ibrahim: 7)



Wallahu alam bisawab.

AKHWAT SEJATI

Seorang gadis cilik bertanya pada Ayahnya
“Abi…ceritakan padaku tentang Akhwat Sejati”

Sang Ayah pun menoleh dan tersenyum seraya menjawab
Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dari
kecantikan hati yang ada dibaliknya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tapi dilihat dari
sejauh mana Ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari begitu banyak kebaikan yang diberikan, tetapi dari
keikhlasan Ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dari
apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari keahlIannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya berbicara.

Sang Ayah terdIam sembari menatap putrinya
“Lantas apa lagi Abi…?”

Ketahuilah putriku….
Akhwat Sejati bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian, tetapi dilihat dari
sejauh mana Ia berani mempertaruhkan kehormatannya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari
kekhawatirannya yang mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujIan yang Ia jalani, tetapi dilihat dari
sejauh mana Ia menghadapi ujian itu dengan Syukur.
Dan Ingatlah…!!!

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari
sejauh mana Ia bisa menjaga kehormatannya dalam bergaul.

Setelah itu Sang anak kembali bertanya
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu Abi…?”

Sang Ayah memberikan sebuah buku dan berkata
“Pelajarilah mereka!!”

Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan
“ISTRI PARA NABI”

Meski kita bukanlah salah satu dari Istri Nabi
Tapi meneladaninya adalah sebuah bentuk kecintaan kita terhadap
Allah SWT
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

AKHWATimoet Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Celebrity Gossip